Nelayan di Pandeglang Sambut Baik Penurunan Harga Solar

  • 16 Jul 2026 10:29 WIB
  •  Banten
Poin Utama
  • Pemerintah menurunkan harga BBM solar menjadi Rp15.000 per liter untuk kapal nelayan berukuran 30-200 GT, turun dari Rp21.300 per liter sebelumnya.
  • Ketua DPC HNSI Pandeglang, Dede Widarso menyatakan, kebijakan ini memberikan dampak signifikan dalam efisiensi biaya operasional kapal penangkap ikan yang membutuhkan ratusan liter solar per pelayaran.
  • Nelayan berharap kebijakan ini terus berlanjut untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan.

RRI. CO.ID, Pandeglang - Kebijakan pemerintah yang menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar menjadi Rp15.000 per liter bagi kapal nelayan berukuran 30 hingga 200 gross ton (GT) disambut positif oleh pelaku usaha perikanan di Kabupaten Pandeglang. Kebijakan tersebut dinilai menjadi stimulus krusial untuk memangkas biaya operasional serta memperkuat produktivitas sektor perikanan.

Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Pandeglang, Dede Widarso mengungkapkan, biaya bahan bakar selama ini menjadi komponen pengeluaran terbesar bagi para nelayan. Sebelum kebijakan ini berlaku, nelayan harus membeli solar dengan harga mencapai Rp21.300 per liter, sehingga penurunan harga sebesar Rp6.300 per liter memberikan dampak efisiensi yang sangat signifikan bagi keberlangsungan usaha.

"Ini kabar yang sangat membahagiakan bagi kami, khususnya para nelayan. Selama ini harga solar cukup tinggi dan di beberapa waktu juga sempat terjadi kelangkaan di sejumlah daerah, termasuk di Kabupaten Pandeglang," ujar Dede, Kamis 16 Juli 2026.

Dede menjelaskan, kapal penangkap ikan berukuran di atas 30 GT umumnya membutuhkan ratusan liter solar dalam satu kali pelayaran yang berlangsung selama satu hingga dua pekan. Efisiensi biaya operasional ini diharapkannya dapat menjadi penopang ekonomi bagi nelayan, terutama di saat hasil tangkapan sedang menurun akibat faktor cuaca.

Dede menyebut saat ini, terdapat sekitar 300 kapal berukuran di atas 30 GT yang beroperasi di wilayah perairan Pandeglang, yang tersebar di sentra perikanan seperti Labuan, Panimbang, Cikeusik, dan Sumur. Menurutnya penurunan harga solar ini sangat membantu dirinya dan nelayan lainnya dalam mencari ikan.

"Kadang harga solar yang tinggi tidak sebanding dengan hasil tangkapan yang diperoleh nelayan. Kalau hasil ikan sedang sedikit, tentu pendapatan mereka ikut berkurang. Dengan adanya penurunan harga ini, setidaknya biaya operasional bisa ditekan," katanya.

HNSI berharap kebijakan harga khusus ini dapat terus berlanjut guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir di Pandeglang. Melalui biaya operasional yang lebih ringan, diharapkan aktivitas melaut para nelayan menjadi semakin lancar dan berkontribusi positif terhadap penguatan perekonomian daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....