Guru Besar ISI Surakarta, Prof Sunardi Bawa Seni Pedalangan Hadapi Tantangan

  • 16 Jul 2026 06:18 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Momentum Dies Natalis ke-62 Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menjadi tonggak sejarah baru bagi penguatan akademik kampus. Salah satunya ditandai dengan pengukuhan Profesor Sunardi sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Estetika Pedalangan pada Rabu, 16 Juli 2026.

Menjawab tantangan masa depan, Prof. Sunardi berkomitmen membawa seni pertunjukan tradisi, khususnya wayang, untuk terus bertransformasi mengikuti irama zaman tanpa kehilangan jiwanya.

Sebagai pakar estetika pedalangan, Prof. Sunardi menyoroti pergeseran nyata pada media pertunjukan wayang di masyarakat, yang kini telah bermigrasi dari ritual klasik menuju era virtual melalui live streaming, YouTube, hingga TikTok. Bagi beliau, digitalisasi ini bukanlah ancaman, melainkan peluang besar yang harus ditangkap oleh para seniman dan dalang agar tetap eksis.

"Intinya yang kami angkat ini terjadi perubahan estetika pergelaran wayang mulai dari masa awal sampai era digital ini. Tetapi wayang tetap eksis karena dia mampu mengikuti perkembangan zamannya. Sebetulnya ini kalau kita terbuka, ini sebetulnya peluang. Apapun kondisinya harus ditangkap oleh dalang agar dia bisa eksis terus. Tapi kalau dia sudah alergi terhadap teknologi, alergi terhadap media, itu akan ketinggalan," kata Profesor Sunardi.

Terkait dengan target dan kontribusinya ke depan untuk perkembangan seni budaya, Prof. Sunardi menegaskan fokusnya untuk menggairahkan kreativitas serta inovasi seni. Dirinya mendorong agar pembelajaran seni tidak berjalan secara kaku atau terlalu terkunci pada pakem yang statis, melainkan lebih fleksibel dalam kemasan yang menarik bagi generasi muda saat ini.

"Bagaimana kita bisa menggairahkan kreativitas dan inovasi seni. Tidak hanya seni pertunjukan wayang, tapi semua seni yang ada di yang diajarkan di ISI Surakarta maupun di masyarakat. Dengan cara tadi mengikuti irama zaman. Artinya dia tidak saklek, pakem banget, dipatok seperti ini, standarnya kayak gini, enggak. Jadi boleh mengikuti perkembangan zaman, sejauh tidak merusak nilai-nilai yang terdalam dari seni itu sendiri atau jiwanya seni itu sendiri," katanya menambahkan.

Profesor Sunardi juga menegaskan bahwa terpenting yang bisa dilakukan oleh para dalang adalah menjaga nilai-nilainya tetap terangkat, serta visualnya masih bisa diikuti oleh masyarakat sekarang, saat menampilkan karyanya.

Melalui pencapaian tertinggi akademiknya yang bertepatan dengan Dies Natalis ke-62 ini, Prof. Sunardi berharap ISI Surakarta dapat terus melangkah maju dan bertumbuh.

Dirinya menargetkan kampus ISI Surakarta mampu menjadi pusat kreativitas seni sekaligus barometer yang diakui secara luas, baik di tingkat nasional maupun internasional, serta memberikan dampak kultural yang nyata bagi masyarakat luas. (JK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....