Tawarkan Konsep Terbuka, Kedai Kopi Alun-Alun Kedaton Ternate Makin Menjamur

  • 15 Jul 2026 13:44 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Ternate - Tren minum kopi di Kota Ternate semakin berkembang dengan kehadiran Kedai Kopi yang beroperasi di kawasan alun alun Keraton Kesultanan Ternate. Menggunakan konsep lapak terbuka, kedai ini mulai menjadi perhatian warga, khususnya kaum muda, sebagai tempat bersantai yang praktis di malam hari.

Salah satu pemilik kedai kopi, Dirgantara, mengungkapkan bahwa usahanya baru berjalan sekitar satu minggu setelah melihat potensi dari pelaku UMKM lain yang sudah lebih dulu membuka lapak di kawasan tersebut. Untuk waktu operasional, kedai ini melayani pembeli sejak sore hingga dini hari.

"Kalau di hari yang biasa dari Senin sampai Sabtu, itu bukanya dari jam 17:00 sore sampai jam 02:00 malam. Kalau malam Minggu, kita bukanya dari jam 18:00 sore sampai jam 02:00 atau jam 04:00 pagi," ujar Dirgantara, Senin, 13 Juli 2026.

Terkait aspek legalitas dan pengelolaan fasilitas, Dirgantara menjelaskan bahwa para pedagang di kawasan tersebut beroperasi di bawah naungan pengelola Ngara Lamo dan pihak Kelurahan Soasio. Ia menyebutkan bahwa biaya retribusi yang ditarik oleh pihak kelurahan masih tergolong standar untuk pemenuhan fasilitas dasar bagi para pedagang.

"Kan ada dari pengelola dan kelurahan, kalau dibilang biaya ini masih standar untuk lampu. Biasanya tergantung yang mintanya, kadang di bawah Rp50.000 lah, karena kan hitungannya mingguan. Rencananya karena kemarin sudah rapat di Ngara Lamo di bagian sini akan dijadikan pagar kopi, ada juga yang mau jualan Coto Makassar,” ujarnya.

Terkait omzet, ia menjelaskan bahwa pendapatan kedainya fluktuatif dan sangat bergantung pada jumlah pengunjung serta faktor cuaca. Pada hari-hari biasa, pendapatan berkisar antara Rp250.000 hingga Rp500.000 ke atas per hari. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah ketika terjadi hujan, yang otomatis menurunkan jumlah pembeli secara drastis.

Sementara itu, salah satu karyawan kedai, Radit, menambahkan bahwa tempatnya bekerja biasanya mulai ramai pada pukul 16.00 atau 17.00 WIT dan baru ditutup sekitar pukul 02.00 atau 03.00 WIT. Mengenai omzet pada momen puncak seperti malam Minggu, kedai ini mampu mencatatkan pendapatan yang cukup signifikan.

"Kalau pendapatan paling dibawah sekitar Rp600.000 sampai Rp700.000, di malam Minggu paling tinggi bisa mencapai Rp1.500.000 sampai Rp1.600.000,” kata Radit. Ia juga menyebutkan bahwa sejauh ini kendala yang sering ditemui di lapangan adalah masalah penataan parkir kendaraan pengunjung yang sering menghambat kelancaran lalu lintas.

Di sisi konsumen, salah satu pengunjung, Fitri, mengaku tertarik membeli kopi di tempat ini karena proses pelayanannya yang dinilai lebih praktis dibandingkan dengan kafe konvensional. Sebagai pencinta kopi, ia menilai kehadiran UMKM kopi jalanan seperti ini sangat memenuhi kebutuhan ruang sosial bagi generasi muda di Ternate.

"Awal mula beli di sini karena mereka itu lebih praktis di jalan. Kalau di kafe kan kita masih mau parkir motor, masuk ke dalam, terus pesan lagi. Tapi Kalau di sini kita bisa langsung beli," kata Fitri.

Meskipun demikian, Fitri memberikan masukan agar kualitas biji kopi yang digunakan dapat terus ditingkatkan ke depannya. Ia juga berharap pihak pengelola dapat menyediakan tempat pelindung yang lebih representatif agar aktivitas kedai dan kenyamanan pengunjung tidak terganggu saat hujan turun. (Mahasiswa PPL IAIN Ternate/ Herlina & Hikmah).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....