Kekeringan Meluas, BPBD Tetapkan 12 Kecamatan Kritis di Sampang
- 15 Jul 2026 13:56 WIB
- Sampang
Poin Utama
- BPBD Kabupaten Sampang telah memetakan 94 desa terdampak kekeringan yang diklasifikasikan ke dalam tiga tingkat kerawanan: kering kritis, kering langka, dan kering terbatas.
- Status siaga darurat kekeringan ditetapkan berlaku dari 29 Mei hingga 31 Oktober 2026 dengan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus.
- Sebanyak 12 kecamatan masuk kategori kering kritis dan menjadi prioritas utama untuk dropping air bersih, meliputi Banyuates, Camplong, Jrengik, Karang Penang, Kedungdung, Omben, Robatal, Sampang, Sokobanah, Sreseh, Tambelangan, dan Torjun.
RRI.CO.ID, Sampang – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sampang memetakan sebanyak 94 desa terdampak kekeringan pada musim kemarau 2026. Puluhan desa tersebut diklasifikasikan ke dalam tiga tingkat kerawanan, yakni kering kritis, kering langka, dan kering terbatas, sebagai dasar penentuan prioritas penanganan dan distribusi bantuan air bersih.
Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sampang, Mohammad Hozin, mengatakan pemerintah daerah telah menetapkan status siaga darurat kekeringan melalui surat keputusan yang berlaku mulai 29 Mei hingga 31 Oktober 2026. Menurut dia, status tersebut menjadi landasan bagi BPBD dalam mengantisipasi dampak musim kemarau yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus.
"Dari hasil pemetaan, terdapat 12 kecamatan yang masuk kategori kering kritis, yaitu Banyuates, Camplong, Jrengik, Karang Penang, Kedungdung, Omben, Robatal, Sampang, Sokobanah, Sreseh, Tambelangan, dan Torjun. Wilayah itu menjadi prioritas apabila dilakukan dropping air bersih," kata Hozin, Rabu, 15 Juli 2026.
Selain wilayah kering kritis, BPBD mencatat tiga kecamatan masuk kategori kering langka, yakni Banyuates, Pangarengan, dan Jrengik. Sementara itu, kategori kering terbatas meliputi Kecamatan Pangarengan, Sampang, dan Ketapang. Pada dua kategori tersebut, masyarakat masih dapat mengakses sumber air, meski debitnya mulai berkurang akibat minimnya curah hujan.
Hozin mengatakan hingga pertengahan Juli pihaknya belum menerima permintaan resmi bantuan air bersih dari desa-desa terdampak.
"BPBD telah menyiapkan anggaran untuk pelaksanaan dropping air pada puncak musim kemarau apabila kebutuhan masyarakat meningkat," tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....