Berjuang Berjam-jam, Paus Bungkuk Terdampar di Pesisir Jembrana Mati

  • 15 Jul 2026 12:19 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Jembrana - Upaya dramatis menyelamatkan seekor paus bungkuk (Megaptera novaeangliae) yang terdampar di Pantai Perancak, Desa Perancak, Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa 14 Juli 2026, berakhir memilukan. Mamalia laut sepanjang 7,7 meter tersebut akhirnya dinyatakan mati setelah berjam-jam bertahan di daratan akibat air laut yang surut.

Sebelumnya, tim gabungan yang terdiri dari Jaringan Satwa Indonesia (JSI), Polairud, TNI AL, serta warga setempat telah bahu-membahu melakukan aksi penyelamatan. Namun, waktu yang terlalu lama di daratan membuat kondisi fisik raksasa laut ini terus melemah hingga tak lagi tertolong.

Dokter hewan dari JSI, drh. Farida Aulia Nugrahantin, mengungkapkan bahwa tim sempat melakukan berbagai upaya medis dan teknis untuk mempertahankan hidup paus tersebut sembari menunggu air laut pasang. "Kami membuat kubangan di sekitar tubuh paus karena air sedang surut. Selama menunggu pasang, tubuh paus harus tetap lembap agar organ-organ vitalnya tidak mengalami tekanan berlebihan akibat berat tubuhnya sendiri. Kami juga rutin menyiram tubuhnya dengan air laut dan menutupi kulitnya menggunakan handuk basah," ujar Farida.

Selain menjaga kelembapan, petugas bahkan memasang barikade di sekitar lokasi pantai demi membatasi kerumunan warga. Langkah ini krusial dilakukan untuk menekan tingkat stres pada mamalia malang tersebut. Tim medis juga terus memantau frekuensi pernapasan paus setiap lima menit sekali.

Meski sempat menunjukkan tanda-tanda bertahan hidup, Farida mengakui sejak awal peluang keselamatan paus ini memang berada di angka 50 banding 50. Hingga saat ini, jenis kelamin paus bungkuk tersebut belum dapat dipastikan karena posisi tubuhnya yang telentang, sehingga menyulitkan pemeriksaan bagian bawah.

Terkait penyebab terdamparnya paus, drh. Farida menjelaskan adanya dugaan kuat bahwa mamalia ini mengalami disorientasi navigasi. "Masih dugaan sementara, paus mengalami disorientasi. Bisa saja karena gangguan sistem navigasi alami (sonar) atau polusi suara di laut, sehingga ia kehilangan arah dan terbawa ke perairan dangkal saat air pasang. Begitu air surut, paus akhirnya terjebak," jelasnya.

Setelah dipastikan mati, tim gabungan segera melakukan koordinasi untuk mengevakuasi dan menguburkan bangkai paus sesuai dengan standar prosedur penanganan mamalia laut, guna mencegah dampak pencemaran lingkungan di sekitar Pantai Perancak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....