Manisnya Panen Rambutan Jailolo, Menghidupi Petani hingga Puluhan Juta Rupiah
- 15 Jul 2026 13:45 WIB
- Ternate
RRI.CO.ID, Jailolo - Halmahera Barat emiliki cara tersendiri menyambut datangnya musim buah. Saat pohon-pohon rambutan, durian, cempedak, hingga langsat mulai berbuah lebat, suasana di kebun berubah menjadi lebih hidup. Truk pengangkut hasil panen keluar masuk desa, sementara para pembeli datang dari berbagai daerah untuk berburu buah segar langsung dari sumbernya.
Buah-buahan khas Jailolo telah lama dikenal memiliki cita rasa yang manis dan berkualitas. Tak heran, ketika musim panen tiba, hasil kebun dari wilayah ini membanjiri pasar-pasar di Ternate, Tidore Kepulauan, hingga Halmahera Tengah. Sebagian dibawa sebagai oleh-oleh, sebagian lagi diperdagangkan kembali oleh para pedagang.
Bagi para petani, musim panen bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum yang paling dinanti. Salah satunya dirasakan Dominggus, petani buah asal Desa Idam Gamlamo, Kecamatan Sahu, yang mengelola puluhan hektare kebun berisi berbagai tanaman buah seperti rambutan, langsat, duku, dan durian.
Di antara berbagai komoditas itu, rambutan menjadi penyumbang pendapatan terbesar. Saat ditemui di kebun rambutannya di Desa Worat-Worat, Dominggus menceritakan bahwa ia memiliki sekitar 100 pohon rambutan yang setiap musim panen mampu menghasilkan lebih dari 20 ton buah.
Hasil panen tersebut mendatangkan keuntungan yang tidak sedikit. Pada musim panen biasa atau yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai musim salata, Dominggus mampu mengantongi pendapatan sekitar Rp60 juta. Sementara pada musim panen raya, penghasilannya dapat meningkat hingga mencapai Rp80 juta.
"Kalau musim seperti sekarang ini, torang bilang musim salata, saya bisa dapat sekitar Rp60 juta. Kalau musim besar bisa sampai Rp80 juta," ujar Dominggus.
Menurutnya, sebagian besar hasil panen dijual langsung di kebun. Para pembeli datang dari berbagai daerah sehingga ia tidak perlu membawa buah ke pasar. Rambutan jenis Ace dipasarkan dengan harga Rp8.000 per kilogram, sedangkan rambutan Bogor dijual dengan harga sekitar Rp5.000 per kilogram.
"Sekarang saya jual Rp8.000 per kilogram untuk rambutan Ace. Banyak pembeli datang langsung ke kebun, bahkan ada yang membeli puluhan kilogram sekaligus," katanya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa musim buah di Jailolo bukan hanya menjadi daya tarik bagi para pencinta buah lokal, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Di balik rimbunnya pohon-pohon rambutan, tersimpan harapan para petani yang setiap tahun menggantungkan rezeki dari hasil alam yang melimpah.
Bagi Dominggus dan petani lainnya, musim buah adalah bukti bahwa kesabaran merawat kebun sepanjang tahun akan terbayar ketika ranting-ranting dipenuhi buah merah yang siap dipanen, sekaligus menghidupkan roda perekonomian di Halmahera Barat.(*)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....