Empat Siswa MAN 2 Kota Madiun, Raih Emas dan Perak di Ajang Internasional
- 15 Jul 2026 10:08 WIB
- Madiun
RRI.CO.ID, Madiun - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan pelajar Kota Madiun di tingkat internasional. Empat siswa MAN 2 Kota Madiun berhasil mengharumkan nama Indonesia setelah membawa pulang satu medali emas dan satu medali perak dalam ajang Student Conference 16th World Robotic for Peace International 2026 yang digelar di Malaysia dan Singapura pada Juni lalu.
Keempat pelajar tersebut adalah Raihan Pramudita Badnagar dan Arwindha Quinnsa Berlin Humaira yang sukses meraih Gold Medal, serta Errickxandy Farentra Gurindogana bersama Kayla Zulfaa Afzawidya yang berhasil membawa pulang Silver Medal. Mereka bersaing dengan lebih dari 150 peserta dari berbagai negara dalam kompetisi yang menghadirkan beragam inovasi dan hasil penelitian dari pelajar dunia.
Meski membawa nama kompetisi robotika, kategori yang mereka ikuti bukanlah membuat atau memprogram robot secara langsung. Mereka mengikuti International Student Conference, yaitu kompetisi presentasi hasil penelitian yang dinilai berdasarkan kualitas riset, inovasi, dampak bagi masyarakat, serta kemampuan peserta dalam mempresentasikan karya di hadapan dewan juri internasional.
Tim peraih medali emas mengangkat penelitian bertajuk pemberdayaan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) melalui kegiatan ecoprint dan pembuatan batako. Ide tersebut lahir dari keinginan mereka untuk membuktikan bahwa penyandang gangguan jiwa yang sedang menjalani rehabilitasi tetap memiliki potensi berkarya apabila diberikan kesempatan, pendampingan, dan ruang untuk berkembang.
Untuk menyusun penelitian tersebut, Raihan dan Arwinda harus melakukan observasi langsung ke sebuah pusat rehabilitasi di Kabupaten Ngawi selama beberapa bulan. Mereka mempelajari kondisi para peserta rehabilitasi, berdiskusi dengan pembimbing, hingga menyusun konsep pemberdayaan yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Tak hanya menyita waktu, penelitian tersebut juga menuntut kesiapan mental. Sebagai pelajar, mereka harus membagi waktu antara kegiatan belajar, organisasi sekolah, penelitian, hingga persiapan presentasi internasional.
"Awalnya kami sempat minder karena ini kompetisi internasional. Tekanannya tentu berbeda. Tetapi kami terus berusaha menghadirkan sesuatu yang benar-benar memiliki nilai dan manfaat bagi masyarakat," ungkap Raihan.
Sementara itu, tim peraih medali perak menghadirkan inovasi yang tidak kalah menarik. Berawal dari kebiasaan menikmati sambal pecel khas Madiun, mereka melihat limbah kulit kacang yang selama ini hanya dibuang begitu saja. Dari situ muncul gagasan mengolah kulit kacang menjadi briket ramah lingkungan sebagai bahan bakar alternatif.
“ Kalau dari kita sendiri kita ada produk itu briket limbah kulit kacang atau kita singkat namanya brilliant," kata Kayla.
Penelitian tersebut membutuhkan proses panjang. Berkali-kali mereka melakukan uji coba dan mengalami kegagalan.
Bahkan saat proses pembakaran, briket yang dibuat sempat mengembang dan tidak dapat digunakan. Namun kegagalan itu tidak membuat mereka berhenti.
Berbagai perbaikan terus dilakukan hingga akhirnya menghasilkan produk yang layak dipresentasikan di ajang internasional. Menurut Errick, ide sederhana justru bisa menjadi inovasi besar apabila dikembangkan melalui riset yang serius.
"Kami ingin menunjukkan bahwa limbah yang dianggap tidak berguna ternyata bisa memiliki nilai ekonomi sekaligus bermanfaat bagi lingkungan," ujarnya.
Keunikan kedua penelitian tersebut mendapat perhatian khusus dari dewan juri. Tim ecoprint dinilai berhasil menghadirkan inovasi sosial yang menyentuh aspek kemanusiaan, sementara tim briket dinilai mampu mengembangkan solusi ramah lingkungan dengan memanfaatkan potensi lokal yang selama ini belum banyak dimanfaatkan.
Selain mempresentasikan karya, keempat siswa juga harus menjawab berbagai pertanyaan dari dewan juri menggunakan bahasa Inggris. Pengalaman tampil di hadapan peserta dari berbagai negara menjadi tantangan sekaligus pengalaman berharga yang semakin meningkatkan rasa percaya diri mereka.
Selama lima hari berada di Singapura dan Malaysia, mereka tidak hanya mengikuti kompetisi, tetapi juga belajar mengenai budaya, cara berpikir, serta kualitas inovasi dari peserta internasional. Pengalaman tersebut semakin memotivasi mereka untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan agar mampu bersaing di tingkat yang lebih tinggi.
Keberhasilan itu, menurut mereka, tidak lepas dari dukungan penuh pihak sekolah, guru pembimbing, keluarga, hingga teman-teman yang terus memberikan semangat selama proses penelitian berlangsung. Pendampingan intensif sejak tahap penyusunan ide, penelitian lapangan, hingga simulasi presentasi menjadi salah satu kunci keberhasilan mereka membawa pulang medali.
Bagi keempat pelajar tersebut, kemenangan bukanlah akhir perjalanan. Prestasi ini justru menjadi penyemangat untuk terus berinovasi, mengikuti kompetisi lain, serta membuktikan bahwa pelajar Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara maju melalui karya yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Prestasi yang diraih empat siswa MAN 2 Kota Madiun membuktikan bahwa mimpi besar tidak mengenal batas wilayah. Dari ruang kelas di Kota Madiun lahir gagasan-gagasan yang mampu berbicara di panggung dunia.
Ketika ilmu pengetahuan dipadukan dengan kepedulian sosial, kreativitas, dan keberanian keluar dari zona nyaman, sebuah medali bukan sekadar simbol kemenangan, melainkan bukti bahwa generasi muda Indonesia memiliki kapasitas untuk menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan global. Kini, tantangan berikutnya bukan hanya mempertahankan prestasi, tetapi terus melahirkan inovasi yang memberi manfaat bagi masyarakat dan mengharumkan nama bangsa di tingkat internasional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....