Ruwat Ruwet Angkat Kembali Spirit Aji Saka untuk Generasi Kini

  • 14 Jul 2026 14:17 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Pertunjukan Ruwat Ruwet: A Mystical Music Dramatic Reading Performance resmi dipentaskan di Gedung Societiet Militair, Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Minggu, 12 Juli 2026. Karya yang lahir dari program Art Management Workshop, hasil kolaborasi Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY dan Melbourne Symphony Orchestra (MSO) tersebut, mengajak publik menafsirkan kembali kisah Aji Saka dan filosofi Hanacaraka di tengah dinamika kehidupan modern.

Pementasan ini merupakan hasil proses kreatif selama hampir tiga bulan yang melibatkan riset budaya, penelusuran jejak Poros Mataram Islam, hingga dialog dengan para pelaku seni. Seluruh proses tersebut menjadi fondasi dalam menerjemahkan nilai-nilai budaya ke dalam sebuah pertunjukan yang memadukan sastra, musik, teater, visual, dan pengalaman multisensoris.

Melalui pendekatan tersebut, penonton diajak tidak hanya menikmati pertunjukan, tetapi juga merefleksikan kembali makna kisah Aji Saka dan aksara Hanacaraka sebagai bagian dari perjalanan manusia dalam membangun pengetahuan dan peradaban.

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, mengatakan bahwa pementasan ini menjadi salah satu hasil nyata kemitraan berkelanjutan antara Pemerintah Daerah DIY dan Melbourne Symphony Orchestra dalam mendukung pengembangan seni pertunjukan, sekaligus meningkatkan kapasitas generasi muda di bidang manajemen seni.

"Kami memberikan fasilitasi kepada tim penyusun proposal terbaik dari Art Management Workshop untuk mewujudkan gagasan kreatif mereka. Tahun ini, tim terpilih berhasil menjawab tantangan untuk mengangkat konsep Sumbu Mataram Islam yang merepresentasikan perjalanan sejarah dan peradaban Kerajaan Mataram Islam di Yogyakarta," ujar Dian.

Menurut Dian, proses kreatif kemudian mengantarkan tim pada Serat Sastra Gendhing karya Sultan Agung. Dari naskah klasik tersebut, mereka menemukan pesan mengenai pentingnya kemampuan berbahasa dan menulis sebagai salah satu anugerah terbesar bagi manusia.

Pemaknaan itu selanjutnya membawa tim kreatif menafsirkan Hanacaraka bukan sekadar sebagai asal-usul aksara Jawa, melainkan simbol kebangkitan manusia dalam mencatat pengetahuan, mewariskan nilai, dan membangun peradaban.

"Semoga pertunjukan ini menjadi pengingat bahwa kebudayaan yang besar lahir dari masyarakat yang tidak pernah berhenti belajar, berdialog, dan mewariskan pengetahuan kepada generasi penerusnya," kata Dian di hadapan tamu undangan yang juga dihadiri Chief Operating Officer Melbourne Symphony Orchestra, Suzanne Dembo, beserta jajaran manajemen dan instruktur MSO.

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, bersama tim Melbourne Symphony Orchestra dan tim produksi Ruwat Ruwet. (Foto: RRI/Wulan Yulianita)

Disutradarai oleh Rifqi Mansur Maya, pertunjukan ini menghadirkan Djati Wowok, Kiki Pea, Ari Hamzah, dan Nalitari sebagai penampil utama. Berbeda dengan pertunjukan dramatik pada umumnya, musik menjadi medium utama yang membangun emosi, ritme, sekaligus menghidupkan setiap adegan.

Atmosfer pertunjukan juga diperkuat melalui tata cahaya, lanskap suara (soundscape), visual, hingga unsur wewangian yang dirancang saling melengkapi sehingga menghadirkan pengalaman artistik yang menyeluruh bagi penonton.

Rifqi Mansur Maya menjelaskan, Ruwat Ruwet lahir dari keinginan untuk melihat cara sejarah masih dapat berbicara kepada manusia masa kini. Melalui adaptasi bebas kisah Aji Saka, Raja Medang, Dora, dan Sembada, pertunjukan ini mempertemukan mitologi, sastra, musik, dan realitas kontemporer dalam satu ruang refleksi.

"Barangkali yang paling kita butuhkan hari ini bukan jawaban baru, melainkan kesempatan untuk mendengar kembali diri sendiri. Karena itu, Ruwat Ruwet bukan sekadar tontonan, melainkan ruang untuk mengalami, mengingat, dan membaca ulang arah di tengah dunia yang semakin ruwet," ucapnya.

Mengangkat semangat ruwatan sebagai benang merah, pertunjukan ini mengajak penonton melakukan perjalanan batin untuk merefleksikan hubungan manusia dengan diri sendiri, sesama, alam, serta Sang Pencipta. Melalui simbol-simbol budaya yang dihadirkan di atas panggung, Ruwat Ruwet menjadi ajakan untuk kembali memahami makna kehidupan di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat.

Lebih dari sekadar pertunjukan seni, karya ini juga menjadi ruang untuk merawat pengetahuan, memperkuat kebudayaan, serta membangun dialog antargenerasi. Di tengah derasnya arus informasi dan berbagai distraksi kehidupan modern, Ruwat Ruwet mengingatkan bahwa kemampuan mengenali diri sendiri tetap menjadi fondasi penting dalam menghadapi keruwetan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....