FKG UGM Tembus Top 100 Dunia WURI 2026 lewat Inovasi

  • 02 Jun 2026 16:15 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Gadjah Mada kembali mencatat prestasi di tingkat global melalui ajang World University Rankings for Innovation (WURI) 2026. Dalam pemeringkatan yang melibatkan 96 negara, 1.927 perguruan tinggi, dan 13.211 program inovasi tersebut, FKG UGM berhasil masuk jajaran top 100 dunia pada delapan kategori penghargaan.

Dari capaian tersebut, dua inovasi FKG UGM bahkan meraih posisi tertinggi dunia, yakni kategori Representative Research Project melalui inovasi Dental Silkbon serta Financial Impact-Driven Technology Transfer lewat inovasi Prospasdent.

Dekan FKG UGM, Prof. Dr. drg. Suryono, S.H., mengaku bersyukur atas pencapaian yang diraih institusinya. Menurutnya, hasil tersebut merupakan buah dari kerja panjang tim selama beberapa tahun terakhir dalam membangun budaya inovasi dan pengakuan internasional.

“Saya merasa sangat senang dan bangga terhadap tim yang telah bekerja keras. Dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun terakhir, FKG UGM berhasil menempatkan diri pada berbagai kategori pemeringkatan dunia,” ujarnya, Selasa, 2 Juni 2026.

Menariknya, FKG UGM tercatat sebagai satu-satunya fakultas yang bersaing langsung dengan universitas-universitas besar dari berbagai negara. Suryono menilai keberhasilan itu tidak lepas dari kemampuan institusi dalam memperkenalkan inovasi dan reputasi yang dimiliki kepada publik internasional.

Ia menyebut banyak kampus memiliki pencapaian besar, namun belum mampu mengomunikasikan hasilnya secara optimal kepada lembaga pemeringkatan dunia.

“Sebaik apapun prestasi yang dimiliki, jika tidak pernah dikenalkan kepada pihak eksternal, maka tidak akan pernah mendapat rekognisi,” katanya.

Suryono juga menekankan pentingnya manajemen kreatif dan inovatif dalam membangun citra institusi. Menurutnya, kemampuan menyusun narasi strategis atas capaian menjadi faktor penting agar prestasi dapat dikenali secara global.

Sebelumnya, pada 2024, FKG UGM juga pernah meraih peringkat keenam dunia untuk kategori Entrepreneurial Spirit, bahkan berada di atas sejumlah universitas ternama seperti Oxford dan Harvard University.

“Tentu perangkingan bukan satu tujuan, tetapi setidaknya kita membuktikan bahwa prestasi itu kalau dibiarkan ya tidak ubahnya semacam emas yang tertutup lumpur,” ujarnya.

Terkait dua inovasi unggulan yang mengantarkan prestasi tersebut, Suryono menjelaskan salah satunya telah mencapai tahap hilirisasi prototipe, sementara inovasi lainnya mulai diarahkan menuju komersialisasi.

Produk pertama berupa pemanfaatan serat sutra sebagai material kedokteran gigi melalui inovasi Dental Silkbon. Material tersebut dapat digunakan sebagai pengikat gigi goyah maupun bahan dasar gigi tiruan. Menurutnya, penggunaan serat sutra menjadi nilai tambah karena berasal dari produk alami hasil budidaya masyarakat.

Sementara inovasi kedua, Prospasdedent, merupakan pasta gigi yang dikembangkan dengan konsep menjaga keseimbangan mikroflora di rongga mulut. Pendekatan ini berpandangan bahwa rongga mulut tidak perlu sepenuhnya steril, melainkan cukup menjaga keseimbangan mikroorganisme agar kesehatan gigi tetap terjaga.

“Salah satu kekuatan inovasi kita adalah mengangkat kearifan lokal untuk digunakan sebagai bagian daripada material. Seperti yang diketahui material kedokteran gigi itu kan 90 persen impor, tetapi ternyata kita dengan berbahan lokal pun bisa menciptakan,” katanya.

Ia menambahkan, inovasi di FKG UGM diupayakan tidak berhenti pada tahap penelitian atau HAKI semata, tetapi terus diarahkan menuju hilirisasi hingga komersialisasi agar mampu memberikan manfaat sosial dan ekonomi yang lebih luas.

Meski telah menorehkan prestasi internasional, Suryono menilai tantangan selanjutnya adalah memperkuat ekosistem komersialisasi hasil riset. Ia berharap UGM dapat memiliki unit khusus yang membantu pengembangan dan pemasaran produk inovasi lintas fakultas.

“Kami berharap ada unit khusus di UGM yang bisa membantu komersialisasi produk hasil hilirisasi riset sehingga dapat menjadi sumber pendanaan tambahan bagi pengembangan institusi,” ujarnya.

Ke depan, FKG UGM berkomitmen untuk terus mengikuti berbagai kategori pemeringkatan internasional lainnya dengan menjajaki bidang-bidang baru yang sesuai dengan kekuatan institusi. Suryono berharap budaya kreatif, inovatif, serta keberanian menunjukkan potensi akademik dapat terus dipertahankan oleh sivitas akademika FKG UGM.

“Tidak ada yang tidak bisa dilakukan selama kita mau berusaha. Saya yakin generasi berikutnya di FKG UGM ini bisa melanjutkan prestasi yang telah kita capai dan sangat luar biasa,” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....