MPLS Ramah 2026 Dimulai, Banyumas Tegaskan Tolak Perundungan di Sekolah

  • 13 Jul 2026 14:46 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Tahun Ajaran 2026/2027 resmi dimulai di seluruh satuan pendidikan di Kabupaten Banyumas. Pembukaan tingkat kabupaten digelar di halaman Pendopo Sipanji, Senin (13/7/2026), dipimpin Sekretaris Daerah Banyumas Agus Nur Hadie yang mewakili Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono.

Kegiatan tersebut dihadiri jajaran Forkopimda Banyumas, kepala organisasi perangkat daerah terkait, kepala sekolah, guru, serta tamu undangan. Pelaksanaan MPLS Ramah tahun ini mengusung pendekatan yang humanis, inklusif, dan berorientasi pada pemenuhan hak-hak anak sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Wahyu Adi, mengatakan MPLS Ramah menjadi tahap awal bagi peserta didik baru untuk mengenal lingkungan sekolah sekaligus memperkuat karakter sejak hari pertama mengikuti proses pendidikan.

"MPLS Ramah adalah kegiatan pertama bagi murid baru yang dilakukan oleh sekolah untuk menumbuhkan serta memperkuat karakter murid sehingga sekolah dapat menjadi rumah kedua, tempat di mana seluruh peserta didik memperoleh rasa aman, nyaman, bahagia, tenang, dan damai," kata Wahyu.

Wahyu menjelaskan, MPLS Ramah dilaksanakan selama lima hari kerja, mulai 13 hingga 17 Juli 2026. Program tersebut diikuti seluruh jenjang pendidikan di Banyumas, baik negeri maupun swasta, yang meliputi 37 SMA, 80 SMK, 25 Madrasah Aliyah, 174 SMP, 59 Madrasah Tsanawiyah, 809 SD, serta 188 Madrasah Ibtidaiyah.

Sementara itu, dalam sambutan Bupati Banyumas yang dibacakannya, Agus Nur Hadie menegaskan paradigma pelaksanaan MPLS telah berubah. Menurutnya, praktik kekerasan, intimidasi, maupun perundungan tidak lagi memiliki tempat dalam kegiatan pengenalan lingkungan sekolah.

"Model perundungan dengan modal bentakan atau teriakan sudah sangat ketinggalan zaman. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan dunia digital, kita harus bergerak maju. Sekolah bukan lagi sekadar tempat untuk mengejar nilai akademik, melainkan ruang aman yang mendukung tumbuh kembang karakter, kreativitas, dan rasa aman bagi anak," ujar Agus.

Ia menambahkan, MPLS Ramah merupakan wujud komitmen Pemerintah Kabupaten Banyumas dalam membangun ekosistem pendidikan yang berpusat pada peserta didik.

"Melalui pendekatan yang harmonis dan menghormati hak-hak anak, sekolah diharapkan mampu memberikan pengalaman awal yang positif sehingga peserta didik tumbuh menjadi pelajar yang tangguh, kritis, kreatif, mandiri, serta memiliki karakter yang kuat," tuturnya.

Pada kesempatan itu juga dilakukan penyerahan bantuan secara simbolis dari Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN) sebanyak 250 unit untuk mendukung peningkatan fasilitas pembelajaran di Kabupaten Banyumas. Agus mengapresiasi dukungan berbagai pihak terhadap kemajuan pendidikan di daerah tersebut.

Menurutnya, bantuan tersebut tidak hanya diharapkan memperkuat sarana pembelajaran, tetapi juga menjadi penyemangat dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan dapat diakses seluruh anak.

"Kepada seluruh penerima manfaat, saya berpesan agar bantuan ini dikelola secara transparan, akuntabel, dan dimanfaatkan secara optimal guna mendukung proses pembelajaran yang interaktif dengan tetap menanamkan nilai-nilai luhur kepada peserta didik," tuturnya.

Sementara itu, perwakilan GSN, Letjen TNI (Purn.) Dr. Teguh Arief, menjelaskan bantuan yang disalurkan difokuskan untuk memperkuat pendidikan dasar melalui distribusi 250 tablet edukasi bagi siswa SD kelas 1 hingga kelas 3.

"Kriteria utama penerima bantuan digital ini adalah sekolah-sekolah yang berada di wilayah blank spot atau belum memiliki akses jaringan internet sama sekali," ujarnya.

Menurut Teguh, tablet tersebut telah dilengkapi materi pembelajaran yang terintegrasi dengan kurikulum sehingga dapat digunakan tanpa koneksi internet.

"Khusus untuk tablet, kami peruntukkan bagi anak-anak SD kelas 1 sampai kelas 3 dengan kriteria sekolah yang belum ada jaringan internet. Di dalam perangkat tersebut sudah tertanam program-program pembelajaran untuk anak sekolah, sehingga tanpa mengakses internet pun mereka sudah bisa belajar menggunakannya secara langsung," kata Teguh.

Selain tablet edukasi, Program Bantuan Presiden juga menghadirkan kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) bagi penyandang disabilitas netra. Perangkat tersebut dirancang untuk membantu pengguna membaca buku maupun mengenali mata uang dengan mengubah informasi visual menjadi suara.

"Kacamata inovatif ini dirancang khusus untuk mempermudah aktivitas membaca buku serta mengenali mata uang dalam waktu singkat, hanya sekitar 1 hingga 3 detik. Informasi visual tersebut kemudian dikonversi menjadi suara yang dapat didengarkan langsung melalui pengeras suara internal maupun earphone," ujarnya.

Di samping dukungan teknologi, pemerintah juga melaksanakan program perbaikan sanitasi sekolah secara bertahap. Pada tahap awal, perbaikan difokuskan di 10 sekolah yang memiliki fasilitas sanitasi rusak, belum memadai, atau jumlah toilet yang tidak sebanding dengan jumlah siswanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....