Optimalkan Pendidikan, Guru Ingatkan Pentingnya Memahami Gaya Belajar Tiap Anak

  • 10 Jul 2026 12:08 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID.Semarang- Anak merupakan investasi terbesar bagi orang tua sehingga kebutuhan pendidikan, nutrisi, dan lingkungan pergaulannya perlu mendapat perhatian yang tepat. Dalam proses pendidikan, setiap anak memiliki kemampuan memahami dan menyerap pelajaran yang berbeda sehingga tidak dapat diperlakukan dengan pendekatan yang sama.

Hal itu disampaikan Guru SD Mountain View Salatiga, Yulia Hesti Anggraminingsih, S.Pd., dan Yesia Chandra Dewi, S.Pd., dalam dialog Ngobras FKP PAPPERRIS di Studio Pro 1 RRI Semarang, Kamis 9 Juli 2026, malam. Menurutnnya, setiap anak memiliki karakter dan metode belajar yang unik. Karena itu, guru maupun orang tua perlu memahami perbedaan tersebut agar proses belajar berjalan optimal.

"Anak itu unik antara satu dengan yang lain, mempunyai cara-cara belajar yang berbeda-beda. Bukan mereka itu malas, tapi punya cara belajar yang lain daripada yang lain, misalnya dari 10 anak itu cara belajarnya pun berbeda atau tidak sama semua, kita sebagai guru harus memahami karakter mereka," ujarnya

Menurutnya, perbedaan kemampuan belajar sering kali disalahartikan sebagai kemalasan. Padahal, setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menerima informasi dan mengembangkan pemahaman terhadap materi yang dipelajari.

Sementara itu, Guru SD Mountain View Salatiga, Yesia Chandra Dewi, S.Pd., menilai perubahan kondisi keluarga saat ini turut memengaruhi perkembangan pendidikan anak. Ia menyebut pola pengasuhan yang berubah membuat proses pendampingan belajar di rumah juga mengalami perubahan.

"Dinamika kehidupan keluarga saat ini sangat berbeda, dahulu ayah kerja, ibu mendampingi anak, sekarang kedua orang tuanya bekerja, ini sangat mempengaruhi perkembangan pendidikan anak. Cara belajarnya pun berbeda, para guru sangat dihormati, sekarang tidak, jika dipaksa malah dianggap otoriter, apalagi sekarang anak-anak lebih melek HP. Banyak keresahan orang tua yang muncul, kenapa belajarnya berbeda," ujarnya.

Ia menjelaskan terdapat berbagai metode belajar seperti auditori, visual, dan kinestetik. Namun, dalam praktiknya, kondisi setiap anak tidak selalu sesuai dengan teori sehingga diperlukan pengamatan dan pendampingan yang lebih mendalam.

"Metode atau teori bisa didapat dari buku, tapi realitanya masih ada anak yang sudah kelas 3 sampai 4 membacanya kurang lancar, tetapi saat melihat gambar atau video dia bisa menceritakan kembali alurnya. Ada juga anak yang tidak suka membaca atau menulis, ternyata anak itu mengalami disleksia, walau kondisi tersebut tidak mempengaruhi tingkat kecerdasannya, orang tua harus proaktif dan jujur saat konsultasi dengan guru," katanya.

Pendapat serupa disampaikan Pengurus Forum Komunikasi Pemerhati Paguyuban Pendengar dan Pemerhati RRI Semarang (FKP PAPPERRIS ) R. Soejarto. Ia menilai guru perlu menyesuaikan metode pembelajaran dengan gaya belajar peserta didik agar proses belajar menjadi lebih efektif, produktif, dan menyenangkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....