Literasi Digital Menjadi Kunci Utama Mengoptimalkan Agroekowisata di Daerah
- 10 Jul 2026 15:33 WIB
- Madiun
Poin Utama
- Banyak destinasi agroekowisata di Indonesia memiliki potensi alam yang tinggi seperti komoditas kopi, durian, dan persawahan, namun kurang dikenal karena strategi pemasaran yang lemah.
- Kendala utama pengelola wisata lokal adalah minimnya kemampuan pemasaran kreatif, literasi digital, dan penggunaan media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube secara optimal.
- Ekosistem pariwisata yang terintegrasi dan pendampingan literasi digital menjadi kunci untuk mentransformasi potensi alam menjadi destinasi wisata yang berdaya saing tinggi di pasar modern.
RRI.CO.ID, Madiun - Potensi kekayaan alam di berbagai daerah mulai dari komoditas kopi, durian, hingga bentang alam persawahan yang memukau, sebenarnya menyimpan peluang ekonomi yang sangat besar. Namun, keindahan dan kualitas produk tersebut seringkali tidak dibarengi dengan strategi pemasaran yang mumpuni.
Akibatnya, banyak destinasi agroekowisata yang memiliki potensi tinggi justru kurang dikenal dan sepi pengunjung.
Ir. Ma'ruf Pambudi Nurwantara, STP., M.Si., IPM., dosen Fakultas Pertanian Universitas Merdeka Madiun menyoroti bahwa kendala mendasar yang dihadapi oleh banyak pengelola wisata di daerah saat ini adalah minimnya kemampuan dalam melakukan pemasaran secara kreatif. Menurutnya, meski alam telah menyediakan modal dasar yang melimpah, aspek komunikasi visual dan strategi pemasaran sering kali terabaikan dalam pengembangan ekosistem pariwisata lokal.
Ma'ruf mengakui meskipun banyak potensi alam, kendala utama daerah saat ini seringkali terletak pada kemampuan marketing dan penggunaan media sosial yang belum optimal.
"Nah, PR-nya apa? Marketingnya mungkin, itu yang menjadi pembedanya. beberapa agroekowisata itu tentu perlu yang dinamakan dengan ekosistem pariwisata. Nah, itu yang menjadi kekurangan kita saat ini. Ekosistem pariwisata itu adalah suatu lingkungan yang memang wisatanya itu tidak hanya berdiri sendiri," ujarnya, saat menjadi narasumber program acara Green Radio Programa 1 RRI Madiun belum lama ini.
Kurangnya literasi digital di tingkat akar rumput menjadi penghambat utama dalam proses branding destinasi wisata. Banyak pelaku UMKM dan kelompok sadar wisata yang masih gagap teknologi, sehingga kesulitan dalam mengemas konten yang menarik di media sosial seperti Instagram, TikTok, atau YouTube.
"Padahal, platform digital merupakan etalase tercepat bagi wisatawan masa kini untuk menentukan tujuan liburan mereka," tuturnya.
Ma'ruf bahkan mengakui bahwa tantangan ini juga dirasakan oleh akademisi, di mana kreativitas dalam membuat konten seperti mengedit video dengan aplikasi CapCut atau menentukan gaya bahasa yang tepat merupakan keilmuan khusus yang perlu dipelajari. Oleh karena itu, peningkatan literasi digital menjadi hal mendesak bagi pelaku usaha di pedesaan agar agroekowisata dapat bertransformasi menjadi identitas daerah yang unggul.
"Dengan pendampingan yang tepat dan kemauan untuk beradaptasi dengan tren pemasaran digital, potensi alam yang selama ini terpendam dapat dikelola menjadi daya tarik wisata yang tidak hanya indah, tetapi juga berdaya saing tinggi di pasar modern," jelasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....