Prestasi Tak Ditentukan Gender, Ketekunan dan Dukungan Orangtua Berpengaruh

  • 07 Jul 2026 06:31 WIB
  •  Takengon
Poin Utama
  • Kemampuan matematika tidak ditentukan oleh gender tetapi oleh pondasi belajar yang kuat, semangat berlatih, dan dukungan keluarga serta guru.
  • Siswi perempuan di MTsN 4 Aceh Tengah sering menunjukkan prestasi akademik lebih baik karena ketekunan dan konsistensi dalam belajar, bahkan mendominasi prestasi di Olimpiade Madrasah Indonesia 2025.
  • Metode pembelajaran perlu dirancang kreatif dengan pendekatan yang menyenangkan sesuai karakteristik setiap peserta didik, tidak semua anak belajar dengan cara yang sama.

RRI.CO.ID, Takengon – Anggapan bahwa anak laki-laki lebih unggul dalam matematika dibandingkan anak perempuan tidak sepenuhnya terbukti. Justru, berdasarkan pengalaman mengajar di MTsN 4 Aceh Tengah, banyak siswi yang menunjukkan prestasi akademik lebih baik berkat ketekunan, kesabaran, dan motivasi belajar yang tinggi.

Hal tersebut disampaikan Guru Matematika MTsN 4 Aceh Tengah, Zuhra Ruhmi, M.Pd., saat menjadi narasumber dalam Program Pengarusutamaan Gender Pro 1 RRI Takengon bertema "Logika Tanpa Batas: Mengapa Angka Tidak Mengenal Gender?", Senin 6 Juli 2026.

Menurut Zuhra, kemampuan matematika tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh pondasi belajar yang kuat, semangat untuk terus berlatih, serta dukungan dari keluarga dan guru.

"Kalau di kelas, kemampuan matematika antara siswa laki-laki dan perempuan tidak terlalu signifikan perbedaannya. Bahkan, banyak juara kelas di madrasah kami adalah perempuan karena mereka lebih tekun dan sabar dalam belajar," ujarnya.

Ia menjelaskan, memang terdapat beberapa kemampuan spasial atau visualisasi yang secara umum lebih mudah dikuasai sebagian siswa laki-laki, misalnya dalam materi geometri yang membutuhkan kemampuan membayangkan bentuk ruang. Namun, menurutnya, kelebihan tersebut bukanlah faktor utama yang menentukan keberhasilan belajar matematika.

Sebaliknya, ketekunan dan konsistensi justru menjadi modal terbesar dalam menguasai pelajaran yang sering dianggap sulit tersebut.

Lebih jauh, Zuhra menilai banyak siswa merasa matematika sulit bukan karena tidak berbakat, tetapi karena pondasi konsep dasarnya belum kuat.

"Belajar matematika itu seperti menaiki tangga. Kalau penjumlahan, pengurangan, perkalian, atau pembagian belum benar-benar dipahami, maka akan kesulitan saat mempelajari materi berikutnya," jelasnya.

Ia menambahkan, guru memiliki tanggung jawab untuk menemukan metode belajar yang sesuai dengan karakter setiap peserta didik. Menurutnya, tidak semua anak belajar dengan cara yang sama. Ada yang lebih mudah memahami melalui gambar, ada yang melalui pendengaran, dan ada pula yang harus belajar sambil bergerak atau melakukan praktik langsung.

Karena itu, pembelajaran perlu dirancang lebih kreatif melalui permainan edukatif, pemberian apresiasi, dan pendekatan yang menyenangkan agar siswa tidak kehilangan rasa percaya diri.

Dalam kesempatan tersebut, Zuhra juga membagikan pengalamannya mendampingi siswa berkebutuhan khusus yang memiliki kemampuan logika matematika sangat baik. Dengan memberikan perhatian, penghargaan, dan kesempatan menunjukkan kemampuannya, siswa tersebut mampu berkembang dan menunjukkan potensi luar biasa.

"Sering kali anak bukan tidak mampu, tetapi belum menemukan cara belajar dan lingkungan yang tepat untuk mendukung potensinya," katanya.

Mengenai ajang kompetisi, Zuhra menegaskan bahwa pemilihan peserta Olimpiade Sains maupun Olimpiade Madrasah dilakukan berdasarkan kemampuan, bukan berdasarkan gender.

Bahkan, menurutnya, pada Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) 2025, peserta perempuan menunjukkan prestasi yang sangat membanggakan dan mendominasi sejumlah capaian.

Di akhir dialog, ia mengajak para orang tua agar tidak membatasi cita-cita anak berdasarkan stereotip gender maupun memaksakan keinginan pribadi kepada mereka.

"Setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Tugas orang tua dan guru adalah mengenali, mendampingi, dan mendukung potensi itu, bukan memaksakan anak menjadi sesuatu yang bukan minatnya," pesannya.

Zuhra juga mengingatkan bahwa matematika hadir hampir di setiap aspek kehidupan, mulai dari pengelolaan keuangan, teknologi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), hingga berbagai bidang ilmu lainnya. Oleh karena itu, menurutnya, matematika merupakan kemampuan dasar yang penting dipelajari oleh siapa saja, tanpa memandang laki-laki maupun perempuan.

Program Pengarusutamaan Gender Pro 1 RRI Takengon tersebut menegaskan bahwa kesetaraan dalam pendidikan bukan berarti menyamakan semua orang, melainkan memberikan kesempatan yang sama kepada setiap anak untuk berkembang sesuai bakat dan potensinya. Dengan menghapus stereotip gender, diharapkan semakin banyak generasi muda yang percaya diri untuk berprestasi di bidang apa pun, termasuk matematika.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....