BKKBN Bali Optimalkan Program Cegah Stunting Berkelanjutan
- 05 Jul 2026 14:38 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Meski mencatat prevalensi stunting terendah di Indonesia sebesar 8,7 persen, Provinsi Bali masih menghadapi tantangan dalam mencegah munculnya kasus stunting baru. Karena itu, penguatan kolaborasi lintas sektor dan intervensi terhadap keluarga berisiko stunting terus menjadi fokus utama Kemendukbangga/BKKBN Perwakilan BKKBN Provinsi Bali
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali, Dr. dr. Ni Luh Gede Sukardiasih, M.For., MARS mengatakan capaian tersebut merupakan hasil kerja sama pemerintah, masyarakat, dunia usaha, serta berbagai pemangku kepentingan yang selama ini aktif dalam percepatan penurunan stunting.
"Kalau kita lihat progresnya memang bagus. Bali dengan angka 8,7 persen menjadi capaian terendah di Indonesia, tetapi masih banyak yang perlu diperbaiki karena ada beberapa kabupaten yang mengalami kenaikan angka stunting," ujar Ni Luh Gede Sukardiasih.
Ia menjelaskan sekitar 70 persen penyebab stunting dipengaruhi faktor sensitif, seperti sanitasi yang buruk, keterbatasan air bersih, kemiskinan, rendahnya pendidikan, hingga pola asuh yang belum optimal. Oleh sebab itu, berbagai program kini lebih difokuskan kepada keluarga yang berisiko mengalami stunting.
Salah satu strategi yang dijalankan Kemendukbangga/ BKKBN adalah Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING). Program tersebut mempertemukan keluarga berisiko stunting dengan orang tua asuh yang memberikan bantuan sesuai kebutuhan tanpa bergantung pada anggaran pemerintah.
"Program GENTING menyasar keluarga berisiko stunting dengan mencarikan orang tua asuh yang membantu sesuai risikonya. Ini dilakukan tanpa menggunakan anggaran pemerintah karena penanganan stunting harus dilakukan bersama-sama," katanya.
Selain memperkuat intervensi kepada keluarga berisiko, Kemendukbangga/ BKKBN juga mendorong persiapan kehidupan berkeluarga sejak usia remaja. Edukasi mengenai kesehatan, kesiapan mental, pendidikan, dan kondisi ekonomi dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah stunting sejak sebelum pernikahan.
Menurutnya, Bali masih menghadapi tantangan dalam pelaksanaan pembekalan dan pemeriksaan kesehatan bagi calon pengantin, khususnya di kalangan umat Hindu. Untuk itu, keterlibatan desa adat dinilai penting agar calon pengantin dapat memperoleh edukasi sebelum memasuki kehidupan berkeluarga.
"Kami berharap seluruh lintas sektor, termasuk desa adat, dapat bersama-sama membangun sistem pembekalan bagi calon pengantin sehingga mereka siap menikah, siap hamil, dan mampu mewujudkan keluarga yang berkualitas," ucapnya.
Kemendukbangga/BKKBN Perwakilan BKKBN Provinsi Bali optimistis target penurunan stunting dapat terus dipertahankan melalui kolaborasi seluruh pihak. Upaya pencegahan sejak masa pranikah hingga pendampingan keluarga berisiko diharapkan mampu melahirkan generasi yang lebih sehat, berkualitas, dan bebas stunting.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....