Placemaking, Cara Bangun Kota yang Lebih Bermakna bagi Warga
- 03 Jul 2026 15:15 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas - Perkembangan dan arah pembangunan kota tak boleh hanya bertumpu pada aspek infrastruktur fisik semata, melainkan harus melibatkan partisipasi aktif warganya, terutama generasi muda. Kota yang inklusif dinilai dari sejauh mana perencanaan tata ruangnya mampu mengakomodasi kebutuhan serta suara dari berbagai lapisan masyarakat.
Hal tersebut menjadi benang merah dalam dialog interaktif Purwokerto Menyapa bertajuk "Ruang Kota untuk Siapa? Placemaking, Anak Muda, dan Masa Depan Purwokerto", Jumat (26/06/26). Dialog ini menghadirkan Yemima Sahmura Vividia selaku dosen Arsitektur dari Fakultas Teknik Unsoed Purwokerto.
Yemima menjelaskan bahwa sebuah ruang kota baru bisa bertransformasi menjadi "tempat" (place) apabila manusia yang menghuninya memberikan makna melalui interaksi sosial, memori, dan kebersamaan. Proses inilah yang disebut dengan konsep placemaking.
Ia menggarisbawahi bahwa indikator utama kota yang ramah terhadap generasi muda tidak diukur dari seberapa banyak jumlah tempat nongkrong atau kafe komersial yang menjamur di suatu wilayah. Menurutnya, ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana generasi muda dilibatkan dalam proses perumusan kebijakan dan tata ruang kota.
"Bisa dikatakan ramah sama anak muda adalah bukan patokannya dari ruang tongkrongan itu semakin banyak, tapi dari keterlibatan anak mudanya itu sendiri. Skala pengukurannya adalah apakah setiap perencanaan di ruang kota itu melibatkan saran atau pendapat dari anak muda," ujar Yemima.
Yemima juga menyoroti maraknya tren adaptive reuse atau daur ulang bangunan tua bernilai sejarah untuk fungsi baru di beberapa daerah. Namun, ia mengingatkan agar revitalisasi tersebut tidak didominasi oleh kepentingan modal komersial eksklusif yang justru meminggirkan masyarakat kelas menengah ke bawah akibat tingginya biaya akses ruang.
Menurutnya, ruang publik yang ideal harus bersifat inklusif dan demokratis, seperti yang saat ini direpresentasikan oleh Alun-alun Purwokerto. Ruang tersebut dinilai berhasil karena mampu menyatukan berbagai elemen masyarakat mulai dari anak-anak, lansia, pasangan muda, hingga pelaku UMKM tanpa adanya syarat ekonomi untuk menikmatinya.
Menutup perbincangan, Yemima mengajak generasi muda Purwokerto untuk berperan aktif dalam menentukan arah perkembangan kota yang tengah tumbuh secara dinamis. Menurutnya, masa depan Purwokerto akan sangat ditentukan oleh keterlibatan anak muda dalam menuliskan dan membentuk narasi baru bagi kotanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....