Mahasiswa KKN UNIB Ajarkan Kompos Maggot Bernilai Ekonomi Berkelanjutan

  • 01 Jul 2026 07:41 WIB
  •  Bengkulu

RRI.CO.ID, KAUR – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 216 Universitas Bengkulu (UNIB) menggelar pelatihan pembuatan pupuk kompos dan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) bagi masyarakat Desa Tanjung Agung, Kecamatan Maje, Kabupaten Kaur, Selasa (30/6/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah organik menjadi produk yang ramah lingkungan sekaligus memiliki nilai ekonomi.

Pelatihan diikuti puluhan warga dengan rangkaian penyampaian materi dan praktik langsung. Selain mengajarkan teknik pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos, mahasiswa KKN juga memperkenalkan budidaya maggot BSF sebagai solusi pengurangan sampah rumah tangga sekaligus alternatif usaha produktif di tingkat desa.

Materi pembuatan pupuk kompos disampaikan mahasiswa Program Studi Agribisnis, Yuliyanti. Dalam pemaparannya, peserta dikenalkan pada tahapan mengolah sampah organik menjadi pupuk yang dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman perkebunan maupun pekarangan rumah.

Foto : Masyarakat Desa Tanjung Agung mengikuti praktik pembuatan pupuk kompos dari sampah organik dengan pendampingan mahasiswa KKN Kelompok 216.(30/06/2026). (Foto: Yunti Anita).

Usai penyampaian materi, peserta langsung mempraktikkan proses pembuatan kompos dengan pendampingan mahasiswa KKN. Praktik tersebut diharapkan mampu mendorong masyarakat mengolah sampah organik secara mandiri menggunakan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.

Selanjutnya, mahasiswa Program Studi Peternakan sekaligus penanggung jawab kegiatan, Novrizal, memberikan pelatihan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Peserta memperoleh pengetahuan mengenai manfaat maggot sebagai pengurai sampah organik, pakan ternak berprotein tinggi, hingga komoditas yang berpotensi memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat.

"Tujuan utama pelatihan ini adalah mengedukasi masyarakat bahwa sampah organik tidak harus menjadi limbah. Sampah dapat diolah menjadi pupuk kompos maupun dimanfaatkan sebagai media budidaya maggot. Selain membantu menjaga lingkungan, hasilnya juga memiliki nilai ekonomi karena kompos dapat digunakan untuk pertanian, sedangkan maggot dapat dijadikan pakan ternak atau diperjualbelikan," ujar Novrizal.

Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang kegiatan. Warga tidak hanya mengikuti sesi materi, tetapi juga menyaksikan secara langsung proses budidaya maggot sehingga memahami cara penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Perwakilan warga, Ahmad Supardi dan Bermansyah, mengapresiasi kegiatan tersebut karena dinilai memberikan keterampilan baru yang dapat diterapkan di lingkungan desa.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa KKN Universitas Bengkulu yang telah memberikan ilmu sekaligus praktik pembuatan pupuk kompos dan budidaya maggot. Pengetahuan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat dan kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut," kata mereka.

Foto : Mahasiswa KKN Kelompok 216 mendampingi masyarakat Desa Tanjung Agung dalam praktik budidaya maggot BSF sebagai salah satu upaya pengelolaan sampah organik yang bernilai ekonomis. (30/06/2026). (Foto: Yunti Anita).

Sementara itu, Koordinator Desa sekaligus Ketua Kelompok KKN 216, Antoni, berharap ilmu yang diberikan tidak berhenti sebatas pelatihan, tetapi benar-benar diterapkan oleh masyarakat sebagai upaya mengurangi volume sampah organik sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian.

"Kami berharap masyarakat dapat mengembangkan pembuatan kompos di rumah masing-masing dan memanfaatkan budidaya maggot sebagai solusi pengelolaan sampah organik yang berkelanjutan. Dengan demikian, lingkungan menjadi lebih bersih sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga," ujar Antoni.

Melalui program tersebut, Mahasiswa KKN Kelompok 216 Universitas Bengkulu berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah organik semakin meningkat. Pemanfaatan sampah menjadi pupuk kompos dan maggot diharapkan mampu mendukung pertanian berkelanjutan, memperkuat ketahanan pangan keluarga, serta menciptakan sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat Desa Tanjung Agung.

Penulis : Yunti Anita (Jurnalistik Fisip Universitas Bengkulu).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....