Anomali Cuaca Ancam Sentra Tembakau Jombang

  • 30 Jun 2026 11:27 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Jombang – Anomali cuaca yang masih terjadi di Kabupaten Jombang mulai mengancam sentra produksi tembakau. Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur sejumlah wilayah dalam beberapa hari terakhir menyebabkan genangan di lahan pertanian dan berpotensi merusak tanaman tembakau yang baru memasuki masa awal pertumbuhan.

Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Jombang saat ini masih melakukan pendataan untuk mengetahui luas lahan dan tingkat kerusakan tanaman yang terdampak. Petugas juga terus memantau perkembangan kondisi di lapangan setelah menerima laporan adanya genangan di sejumlah areal pertanian.

Kepala Dinas Pertanian Jombang M. Rony melalui Kepala Bidang Perlindungan, Pascapanen, dan Pemasaran Hasil Pertanian, Akhmad Jani Masyhudi, mengatakan hingga kini pihaknya belum dapat memastikan besarnya dampak karena proses pendataan masih berlangsung.

"Kami masih menginventarisasi kondisi di lapangan. Sejak beberapa hari terakhir petugas terus memantau perkembangan, terlebih setelah hujan deras kembali terjadi dan muncul laporan adanya genangan di sejumlah lahan pertanian," kata Jani, Selasa, 30 Juni 2026.

Selain melakukan pendataan, Disperta juga menyiapkan surat imbauan kewaspadaan kepada petani di seluruh Kabupaten Jombang. Menurutnya, kondisi cuaca saat ini sulit diprediksi sehingga petani perlu meningkatkan antisipasi terhadap potensi banjir maupun kekeringan meski telah memasuki musim kemarau.

"Kami akan menyampaikan imbauan kepada para petani agar lebih waspada. Saat ini terjadi anomali cuaca, sehingga ancaman banjir maupun kekeringan sama-sama perlu diantisipasi meskipun secara kalender sudah memasuki musim kemarau," ujarnya.

Jani menjelaskan, genangan air dapat menyebabkan tanaman tembakau mengalami kerusakan apabila tidak segera ditangani. Namun hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai tanaman yang mati akibat genangan tersebut. "Potensi kerusakan tentu ada, tetapi sejauh ini belum ada laporan resmi yang menyatakan tanaman mati. Karena itu, kami masih menunggu hasil pendataan dari lapangan," ujarnya.

Ia menambahkan, tanaman masih berpeluang diselamatkan apabila petani segera membuat saluran pembuangan air atau gulutan, serta menguras genangan menggunakan pompa. Sebaliknya, tanaman yang terendam selama lebih dari empat hari berisiko mengalami kelayuan hingga mati.

"Kalau genangan segera dialirkan melalui saluran atau dipompa keluar, kemungkinan tanaman masih bisa bertahan. Namun jika air menggenang selama beberapa hari tanpa penanganan, tanaman berisiko layu dan akhirnya mati," ucapnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jombang, Lasiman, membenarkan adanya genangan yang merendam lahan tembakau di sejumlah wilayah. Menurutnya, mayoritas tanaman yang terdampak masih berusia muda, sehingga lebih rentan mengalami kerusakan.

"Tanaman yang terdampak rata-rata masih berumur sekitar satu hingga dua minggu setelah tanam. Jadi memang masih berada pada fase yang cukup rentan terhadap genangan air," kata Lasiman.

Ia menyebut luas tanam tembakau di Kabupaten Jombang pada musim tanam tahun ini mencapai sekitar 5.600 hektare dan hampir seluruh proses tanam telah selesai. Namun, akibat hujan yang memicu banjir di beberapa lokasi, sebagian petani diperkirakan harus melakukan penanaman ulang pada lahan yang mengalami kerusakan.

"Luas tanam tahun ini sekitar 5.600 hektare dan hampir semuanya sudah selesai ditanami. Tetapi karena ada lahan yang terdampak banjir, kemungkinan sebagian petani harus kembali melakukan penanaman di lokasi yang mengalami kerusakan," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....