Sukses Bertani Kopi, Warga Transmigrasi di Labonu Raup Hasil Menjanjikan

  • 25 Jun 2026 13:43 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID, Tolitoli – Semangat dan kerja keras mengubah lahan menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan ditunjukkan Satar, warga transmigrasi asal Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang telah menetap di Desa Labonu, Dusun III, Kecamatan Basidondo, Kabupaten Tolitoli sejak tahun 1985.

Bersama suaminya, Satar datang ke Desa Labonu melalui program transmigrasi dan memulai kehidupan baru dengan membuka lahan secara manual. Berbagai jenis tanaman pernah dibudidayakan, mulai dari buah-buahan hingga sayuran. Namun dalam beberapa tahun terakhir, ia memilih fokus mengembangkan tanaman kopi karena memiliki nilai ekonomi yang lebih baik dan harga yang relatif stabil.

“Kami di sini sejak tahun 1985, datang sebagai warga transmigrasi. Dulu awalnya sulit karena harus membuka lahan secara manual dan bercocok tanam dari nol. Kami sudah menanam berbagai tanaman, mulai dari buah-buahan sampai sayuran. Beberapa tahun terakhir kami fokus menanam dan merawat kopi karena harganya bagus. Selain kopi kami juga menanam kelapa, karena kalau coklat banyak hamanya seperti monyet dan babi yang suka merusak tanaman,” ujar Satar kepada RRI, Selasa (24/6/2026).

Saat ini, Satar mengelola lahan kopi seluas lebih dari satu hektar. Menurutnya, tanaman kopi dapat dipanen hingga dua kali dalam setahun, tergantung kondisi cuaca dan perawatan yang dilakukan. Untuk menjaga produktivitas tanaman, ia rutin melakukan pemupukan dan penyemprotan.

Ia mengaku saat musim panen tiba membutuhkan tenaga kerja tambahan karena luasnya lahan yang dikelola. Meski demikian, hasil yang diperoleh cukup menjanjikan karena harga kopi di pasaran masih stabil.

“Kalau panen kami juga mengambil tenaga kerja untuk membantu, karena lahan lebih dari satu hektar tidak bisa dikerjakan sendiri. Alhamdulillah harga kopi masih bagus dan stabil. Kami juga sudah punya penampung. Biasanya kalau butuh uang sebelum panen, kami bisa mengambil terlebih dahulu dan nanti dibayarkan saat hasil panen disetor,” katanya.

Satar juga mengungkapkan rasa syukurnya dapat membangun kehidupan yang lebih baik di Kabupaten Tolitoli. Berbagai kendala yang dihadapi dalam bertani dapat dikonsultasikan dengan penyuluh pertanian yang bertugas di desa sehingga membantu petani dalam meningkatkan hasil produksi.

Menurutnya, keberhasilan yang diraih saat ini menjadi bukti bahwa kerja keras dan ketekunan dalam mengelola lahan pertanian mampu memberikan kesejahteraan bagi keluarga.

“Saya bersyukur bisa datang ke Tolitoli sebagai warga transmigrasi. Dengan bertani kami bisa memperbaiki kehidupan keluarga dan mengolah lahan yang ada menjadi sumber penghasilan yang baik,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....