Dari Gudang Jadi Kebun Emas: Kisah Sukses Urban Farming PKK Kelurahan Tangki

  • 23 Jun 2026 16:19 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, JAKARTA – Kreativitas dan konsistensi menjadi kunci transformasi luar biasa di Kelurahan Tangki, Jakarta Barat. Rooftop kantor kelurahan yang dulunya hanya berfungsi sebagai gudang penyimpanan barang-barang tak terpakai, kini telah disulap menjadi lahan pertanian perkotaan (urban farming) yang sangat produktif dan bernilai ekonomi tinggi.

Bu Tini (54), Wakil Ketua TP-PKK Kelurahan Tangki yang telah mengabdi selama 25 tahun, menceritakan perubahan signifikan ini. Menurutnya, sebelum kepemimpinan Lurah saat ini, Pak Iqbal, area lantai empat tersebut merupakan gudang peralatan PPSU yang tidak tertata.

"Dulu ini gudang, tidak terjamah. Tapi sejak Pak Iqbal datang dan melihat potensi di atas, apalagi istrinya hobi tanaman, langsung terpikir untuk mengubahnya menjadi rooftop garden. Sekarang alhamdulillah sudah rapi, ada ruang kreasi, ruang baca, dan ruang kerja PKK," ujar Bu Tini yang baru-baru ini mendapat penghargaan atas masa baktinya selama dua setengah dekade. Senin 22 Juni 2026.

Dari Nol Menuju Omzet Jutaan Rupiah

Keberhasilan urban farming ini tidak hanya berdampak pada penghijauan, tetapi juga memberikan napas baru bagi kas PKK. Bu Tini mengungkapkan bahwa awalnya PKK Kelurahan Tangki tidak memiliki uang kas. Namun, melalui penjualan hasil tani seperti lidah buaya Kalimantan/Pontianak, cabai, dan sayuran hidroponik, mereka berhasil mengumpulkan dana yang signifikan.

"Alhamdulillah, dari hasil jualan lidah buaya dan sayuran, kita sudah bisa beli kulkas dua pintu untuk kantor. Bahkan, terkumpul kas lebih dari Rp 30 juta yang akhirnya kita gunakan untuk memberi kenang-kenangan berupa emas masing-masing 2 gram untuk anggota," tambahnya.

Penjualan dilakukan secara terintegrasi antara Pokja 3 yang fokus pada penanaman dan Pokja 2 sebagai tim pemasaran melalui bazar maupun penjualan langsung ke warga.

Inovasi Produk dan Ketahanan Pangan

Produk unggulan dari kebun rooftop ini adalah lidah buaya yang diolah menjadi minuman segar. Ke depannya, PKK Tangki berencana mengembangkan produk olahan lain seperti permen dan sabun dari lidah buaya.

Selain nilai ekonomi, aspek ketahanan pangan dan kesehatan juga menjadi prioritas. Hasil panen seperti labu madu, labu parang, dan labu air dimanfaatkan untuk mendukung program penanganan stunting di wilayah tersebut.

"Labu madu itu mahal di supermarket, tapi kita bisa menghasilkan sendiri. Kami gunakan hasil panen ini untuk membantu anak-anak yang berisiko stunting, diolah menjadi puding yang disukai anak-anak," jelas Bu Tini.

Transformasi di Kelurahan Tangki ini membuktikan bahwa dengan kemauan dan kolaborasi yang kuat, lahan sempit di tengah kota dapat dioptimalkan menjadi sumber pangan, solusi kesehatan, sekaligus penggerak ekonomi keluarga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....