PII Jatim Dorong Pendekatan Resapan untuk Pengendalian Banjir
- 23 Jun 2026 12:19 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Pengurus Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jawa Timur sekaligus Ketua LPMK Rungkut Tengah, Ali Yusa, mendorong penguatan pendekatan berbasis resapan air dalam pengendalian banjir perkotaan. Dalam keterangan tertulis yang diterima RRI, ia menilai strategi pengendalian banjir perlu tidak hanya berfokus pada percepatan pembuangan air, tetapi juga meningkatkan kemampuan kota dalam menyerap dan menahan air hujan.
Menurut Ali Yusa, hujan berintensitas tinggi yang mengguyur Surabaya pada 22 hingga 23 Juni 2026 menjadi pengingat pentingnya pengelolaan air perkotaan yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim. Ia menilai fenomena cuaca ekstrem berpotensi semakin sering terjadi sehingga memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif dalam pengendalian banjir.
Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan yang terjadi di Jawa Timur dalam beberapa hari terakhir dipengaruhi sejumlah faktor atmosfer, termasuk dinamika musim peralihan dan aktivitas gelombang atmosfer. Kondisi tersebut menunjukkan hujan dengan intensitas tinggi masih dapat terjadi meskipun sebagian wilayah telah memasuki musim kemarau.
Dalam keterangannya, Ali Yusa menilai pengendalian banjir selama ini masih didominasi pendekatan infrastruktur seperti pembangunan saluran drainase, rumah pompa, dan percepatan aliran air menuju sungai atau laut. Menurutnya, pendekatan tersebut tetap diperlukan, namun perlu dilengkapi dengan upaya meningkatkan kapasitas resapan air di kawasan perkotaan.
"Pertanyaan mendasarnya bukan hanya bagaimana air dialirkan, tetapi ke mana air harus disimpan. Kota modern tidak hanya harus mampu mengalirkan air, tetapi juga meresapkan dan menahannya," tulis Ali Yusa, Selasa 23 Juni 2026.
Ia menjelaskan, berkurangnya ruang terbuka dan meningkatnya permukaan kedap air di kawasan perkotaan dapat menyebabkan air hujan lebih banyak menjadi limpasan permukaan. Akibatnya, beban saluran drainase meningkat ketika hujan turun dalam intensitas tinggi dan waktu yang relatif singkat.
"Air hujan yang tidak dapat meresap akan langsung menuju saluran. Ketika volume air meningkat dalam waktu singkat, beban sistem drainase juga akan semakin besar," ucapnya.
Ali Yusa mencontohkan sejumlah kota di dunia mulai menerapkan konsep water sensitive city dan sponge city, yaitu pendekatan yang mengedepankan kemampuan kota untuk menyerap, menyimpan, dan memanfaatkan air hujan sebagai bagian dari sistem lingkungan perkotaan.
Karena itu, ia mendorong pengembangan berbagai solusi berbasis infiltrasi atau resapan air, seperti pembangunan sumur resapan, kawasan retensi, pelestarian daerah tangkapan air, serta penambahan ruang terbuka hijau.
| Baca juga: Dewan Jatim Usulkan Perda Ketahanan Keluarga |
"Infiltrasi merupakan bagian penting dalam pengelolaan air perkotaan. Selain membantu mengurangi limpasan permukaan, cara ini juga berkontribusi terhadap pengisian kembali cadangan air tanah," katanya.
Ali Yusa juga mengingatkan pentingnya melihat pengendalian banjir secara menyeluruh dalam satu sistem daerah aliran sungai. Menurutnya, setiap intervensi pada sistem drainase perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap kawasan lain agar tidak menimbulkan risiko baru di wilayah hilir.
Ia berharap pengembangan infrastruktur pengendalian banjir di Surabaya ke depan tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas saluran dan rumah pompa, tetapi juga memperkuat kemampuan kota dalam menyerap dan menyimpan air hujan.
"Ketahanan kota terhadap banjir membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Drainase dan rumah pompa tetap diperlukan, tetapi harus didukung oleh upaya menjaga fungsi resapan air sebagai bagian dari sistem pengelolaan lingkungan perkotaan," tuturnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....