Tawaf Wada' Bukan Perpisahan, tapi Awal Perjuangan Hidup

  • 04 Jun 2026 19:34 WIB
  •  Bone

RRI.CO.ID, Bone - Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ikhlas Bone, Dr. Muhammad Asriady, S.Hd., M.Th.I., CPSM., menegaskan bahwa Tawaf Wada' bukan sekadar rangkaian penutup ibadah haji sebelum meninggalkan Makkah, melainkan momentum refleksi yang mengingatkan jemaah untuk membawa nilai-nilai Baitullah ke dalam kehidupan sehari-hari setelah kembali ke tanah air. Menurutnya, Tawaf Wada' memiliki makna mendalam sebagaimana hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Ibnu Abbas, bahwa manusia diperintahkan menjadikan Baitullah sebagai akhir dari urusan mereka sebelum meninggalkan Kota Makkah.

Perintah tersebut mengandung pesan spiritual tentang perpisahan yang sarat makna dan penghayatan. Ia menjelaskan, setiap jemaah memiliki pengalaman batin yang berbeda saat memandang Ka'bah.

Ada yang meneteskan air mata, ada yang larut dalam doa, dan ada pula yang membatin dalam keheningan. Namun suasana paling menggetarkan justru ketika harus meninggalkan Baitullah melalui Tawaf Wada'.

Dr. Asriady mengaitkan momen tersebut dengan Haji Wada' yang dilaksanakan Rasulullah SAW sekitar 1.400 tahun lalu. Dalam haji perpisahan itu, Nabi Muhammad SAW menyampaikan pesan-pesan penting tentang persatuan, amanah, dan nilai-nilai kemanusiaan yang hingga kini tetap menjadi pedoman bagi umat Islam.

"Tawaf Wada' sejatinya adalah perpisahan yang bukan akhir, melainkan awal perjuangan. Ibadah fisik telah selesai, tetapi ujian sesungguhnya baru dimulai ketika jemaah kembali ke tengah keluarga dan masyarakat," ujarnya.

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa haji mabrur tidak diukur dari lamanya seseorang berada di Masjidil Haram, melainkan dari perubahan sikap dan kebersihan hati setelah pulang. Rumah Allah yang berada di Makkah, kata dia, harus hadir dalam bentuk akhlak mulia, kejujuran, dan ketaatan yang terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga mengingatkan pentingnya rasa syukur atas kebersamaan selama menjalankan ibadah haji. Doa para guru, bimbingan petugas, serta dukungan sesama jemaah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kelancaran pelaksanaan seluruh rangkaian ibadah di Tanah Suci.

Asriady berharap setiap jemaah dapat pulang dengan membawa ketenangan Arafah, keheningan Muzdalifah, dan kekhusyukan tawaf di pelataran Ka'bah sebagai bekal untuk memperbaiki diri. Dengan demikian, nilai-nilai yang diperoleh selama berhaji dapat terus hidup dan menjadi jalan menuju predikat haji mabrur yang diridhai Allah SWT.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....