Guru Besar UIN Saizu Soroti Krisis Lingkungan Global
- 04 Jun 2026 16:20 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Guru Besar Bidang Ilmu Hukum Lingkungan UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Prof. Nita Triana, menegaskan perlunya perubahan paradigma pembangunan yang selama ini terlalu berorientasi pada pertumbuhan ekonomi menuju pendekatan yang lebih ekologis dan berkeadilan. Pandangan tersebut disampaikan dalam The 5th Saizu International Conference on Transdisciplinary Religious Studies (ICONTREES) yang digelar di Hall Perpustakaan UIN Saizu Purwokerto, Rabu (3/6/2026).
Dalam forum internasional yang diikuti akademisi, mahasiswa, peneliti, dan presenter dari berbagai negara itu, Prof. Nita memaparkan materi berjudul Beyond Economic Growth: Toward a Transdisciplinary Ecotheological Paradigm for Sustainable Development and Ecological Justice. Ia menyebut krisis lingkungan global yang ditandai perubahan iklim, kerusakan hutan, hilangnya keanekaragaman hayati, pencemaran lingkungan, hingga meningkatnya bencana ekologis menunjukkan kelemahan mendasar dalam paradigma pembangunan yang selama ini diterapkan.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan selama beberapa dekade masih diukur melalui indikator ekonomi seperti pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), peningkatan investasi, industrialisasi, dan eksploitasi sumber daya alam. Padahal, pendekatan tersebut belum mampu menjamin keberlanjutan kehidupan dan kelestarian lingkungan.
“Berbagai proyek pembangunan sering kali berujung pada eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, konflik ekologis, kerusakan lingkungan, hingga marginalisasi masyarakat lokal dan adat,” ujarnya.
Prof. Nita menjelaskan bahwa persoalan lingkungan tidak lagi dapat dipahami hanya dari sudut pandang teknis maupun ekonomi. Menurutnya, masalah lingkungan merupakan persoalan multidimensional yang melibatkan aspek hukum, politik, budaya, pendidikan, etika, hingga spiritualitas sehingga membutuhkan pendekatan transdisipliner yang mampu menghasilkan solusi lebih komprehensif.
“Pendekatan transdisipliner perlu dibangun di atas fondasi nilai yang mampu mengarahkan pembangunan menuju keberlanjutan. Salah satunya melalui perspektif ekoteologi,” ucapnya.
Ia menerangkan, ekoteologi memberikan kerangka etis dan spiritual yang memandang manusia bukan sebagai penguasa mutlak alam, melainkan bagian dari komunitas ekologis yang memiliki tanggung jawab moral menjaga keseimbangan ciptaan. Pendekatan tersebut dinilai dapat memperkuat hukum lingkungan, mendorong ekonomi hijau, serta membangun kesadaran ekologis melalui pendidikan berbasis karakter.
“Melalui pendidikan, peserta didik dapat memahami bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban sosial, tetapi juga bagian dari pengamalan nilai-nilai keagamaan,” katanya.
Dalam penutup presentasinya, Prof. Nita menegaskan bahwa ekoteologi memiliki potensi besar sebagai fondasi etis transdisipliner untuk pembangunan berkelanjutan. Melalui integrasi keadilan ekologis, ekonomi ekologis, dan konsep web of life, pembangunan masa depan diharapkan mampu menciptakan keseimbangan antara kesejahteraan manusia, keadilan sosial, dan keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....