Batobo, Tradisi Unik di Tidore saat Momen Piala Dunia

  • 30 Mei 2026 17:08 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Tidore - Perhelatan Piala Dunia tak sekadar menjadi ajang pertandingan sepak bola paling bergengsi di dunia, tetapi juga menjelma sebagai ruang ekspresi bagi para penggemar untuk menunjukkan loyalitas terhadap tim nasional kebanggaan mereka. Setiap empat tahun sekali, atmosfer semarak terasa hingga ke pelosok daerah, termasuk di Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara.

Berbagai cara dilakukan warga untuk menyambut dan meramaikan turnamen ini. Mulai dari pemasangan bendera negara peserta, pengecatan lingkungan dengan warna khas tim favorit, hingga menghias kampung dengan ornamen bernuansa Piala Dunia. Semangat kolektif ini mencerminkan betapa kuatnya daya tarik sepak bola sebagai pemersatu lintas latar belakang.

Namun, di balik kemeriahan tersebut, Kota Tidore memiliki tradisi unik yang tidak ditemukan di banyak daerah lain. Tradisi itu dikenal dengan sebutan batobo, yakni aksi menceburkan pendukung tim yang kalah ke laut sebagai bentuk konsekuensi dari kekalahan tim yang mereka dukung.

Tradisi ini bukan sekadar gurauan sesaat, melainkan telah menjadi bagian dari kebiasaan setiap kali Piala Dunia digelar.

Warga setempat menyebutnya sebagai kegembiraan yang sarat canda, namun tetap dinantikan. Para pendukung tim yang kalah bahkan sudah memahami risiko tersebut sejak awal, menjadikan tradisi ini sebagai bagian dari dinamika persaingan antarpendukung.

Menariknya, batobo tidak memandang status sosial. Siapa pun bisa menjadi korban, mulai dari masyarakat biasa hingga pejabat daerah. Dalam beberapa kesempatan, aparat kepolisian, camat, bahkan kepala daerah pun tak luput dari tradisi ini ketika tim yang mereka dukung harus menelan kekalahan di lapangan hijau. Salah satu titik yang selalu menjadi pusat perhatian adalah Pelabuhan Rum, Kota Tidore.

Setiap pertandingan penting berlangsung, area jembatan pelabuhan dipadati warga yang ingin menyaksikan langsung prosesi batobo. Sorak sorai penonton berpadu dengan gelak tawa menciptakan suasana yang meriah sekaligus penuh keakraban.

Meski terlihat ekstrem, tradisi ini sejatinya mencerminkan semangat sportivitas dan kebersamaan masyarakat Tidore. Tidak ada unsur permusuhan, melainkan ekspresi kegembiraan yang dibalut dalam budaya lokal yang khas.

Piala Dunia di Tidore bukan hanya tentang siapa yang menang atau kalah. Lebih dari itu, ia menjadi panggung kebersamaan, identitas lokal, dan tradisi unik yang terus hidup dari generasi ke generasi.(*)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....