Dua Pemuda Ubah Hobi Merangkai Bunga Jadi Usaha Wewangian Ramah Lingkungan
- 26 Mei 2026 07:06 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Berawal dari hobi merangkai bunga dan ketertarikan pada aroma, Heri Ramadhani dan Max Mahendra mengembangkan LiyerLiyer menjadi usaha wewangian. Keduanya membangun brand yang tidak hanya menjual produk yang menenangkan penggunanya namun juga memiliki cerita di balik setiap produknya.
Heri menuturkan ide awal LiyerLiyer lahir dari kebiasaan membuat kreasi bunga kering untuk hadiah dan dekorasi. Seiring waktu, keduanya mulai tertarik mengeksplorasi lilin aromaterapi hingga berkembang ke berbagai lini wewangian lain.
“Kami ingin LiyerLiyer bukan sekadar produk yang dijual, tapi ada pengalaman yang dirasakan orang saat mencium aromanya. Setiap aroma punya cerita, punya karakter, jadi kami memang ingin orang mengingat produk ini bukan cuma karena wanginya, tapi juga kesan yang dibawa,” kata Heri
Nama LiyerLiyer sendiri diambil dari gagasan tentang “daydream” atau melamun. Filosofi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam produk-produk mereka, mulai dari lilin aroma, parfum, diffuser, hingga car diffuser dengan sembilan varian aroma yang masing-masing memiliki ciri khas tersendiri, mulai dari teh keraton, wedang uwuh, hingga es doger.
Dalam perjalanan mengembangkan usaha, dukungan pembiayaan menjadi salah satu faktor penting bagi LiyerLiyer. Saat usaha baru berjalan sekitar satu tahun, mereka memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI untuk menambah kapasitas produksi dan kebutuhan operasional.
Max mengatakan keputusan untuk mengambil pinjaman KUR sebesar Rp11 juta saat itu sangat membantu menjaga perputaran usaha tetap berjalan.
“Dulu kami ambil KUR BRI Rp11 juta dengan tenor tiga tahun. Cicilannya jadi ringan setiap bulan dan sangat membantu operasional.Waktu itu LiyerLiyer baru setahun jalan, bahkan baru sekali ikut pop-up market, jadi dananya kami pakai untuk operasional, tambah barang, dan produksi untuk ikut market berikutnya,” ucap Max
Selain pembiayaan, LiyerLiyer juga mengikuti program BRI Incubator yang menurut mereka membuka banyak peluang baru untuk usaha. Melalui program tersebut, mereka mendapatkan pendampingan, relasi, hingga kesempatan kolaborasi yang ikut mendorong pertumbuhan brand.
Menurut Heri, manfaat yang dirasakan tidak hanya soal akses modal, tetapi juga pengalaman bertemu sesama pelaku usaha dan belajar memahami bisnis secara lebih luas. Bagi mereka, proses itu membantu memperkuat fondasi usaha yang sebelumnya dibangun secara mandiri dari nol.
Strategi pemasaran LiyerLiyer sendiri hingga kini masih bertumpu pada penjualan langsung melalui pop-up market di Yogyakarta dan Solo. Cara tersebut sengaja dipilih agar mereka bisa berinteraksi langsung dengan pelanggan, mendengar masukan secara langsung, sekaligus melihat respons pasar terhadap setiap produk yang dibawa.
Selain fokus pada kualitas produk, LiyerLiyer juga berupaya mengampanyekan daur ulang dalam proses produksi dan pengemasan. Mereka memanfaatkan ulang kemasan yang masih layak, memilah sampah produksi, serta menerima botol atau wadah produk lama dari pelanggan untuk digunakan kembali. Pelanggan yang mengembalikan wadah atau botol bekas bahkan bisa mendapatkan potongan harga maupun produk tertentu sebagai apresiasi.
“Yang masih bagus kita pakai lagi, yang udah gak layak kita masukin ke bank sampah. Karena kita pakai kaca kan. Kaca kalau gak bocor atau gak ada retak bisa dipakai lagi bisa kita bersihkan, jadi hampir gak ada yang kita buang,” ucap Max (Aryasena)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....