Komunitas Palalah Soroti Sejarah Divisi IV ALRI di Kalimantan
- 25 Mei 2026 19:35 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Saat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, informasi kemerdekaan belum tersebar merata dan baru diketahui di Pulau Jawa karena Belanda melakukan blokade setelah Jepang menyerah kepada Sekutu. Hal tersebut menjadi pembahasan anggota Komunitas Palalah, yakni Syauqani, Neza, dan Erwin, dalam program Pandiran Baisukan RRI Pro4 Banjarmasin, Sabtu, 23 Mei 2026.
Syauqani menjelaskan, berdasarkan perjanjian pada masa itu, Jepang harus mengembalikan wilayah jajahannya kepada penguasa sebelumnya, yaitu Belanda. Kondisi tersebut membuat pemerintah Indonesia menghadapi tantangan besar untuk menyatukan daerah-daerah di luar Pulau Jawa.
Ia menambahkan bahwa Kalimantan baru resmi menjadi bagian dari Republik Indonesia pada 17 Mei 1949. Artinya, terdapat rentang waktu sekitar empat tahun sejak proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 1945.
Menurutnya, perjuangan mempertahankan Kalimantan tidaklah mudah karena wilayah tersebut masih diduduki militer Belanda yang datang kembali bersama NICA (Netherlands Indies Civil Administration) untuk membangun kembali pemerintahan sipil kolonial.
“Saat itu, Gubernur pertama Kalimantan, Pangeran Muhammad Noor, yang berada di Pulau Jawa mengirimkan ekspedisi yang melibatkan sejumlah pejuang,” kata Syauqani. “Salah satu yang berhasil masuk ke Banjarmasin adalah Pangeran Hasan Basri, yang kemudian mendirikan Divisi IV ALRI.”
Neza menjelaskan bahwa pembentukan Divisi IV ALRI berkaitan erat dengan Perjanjian Linggarjati yang melibatkan Sutan Sjahrir. Dalam perjanjian tersebut, Belanda hanya mengakui kekuasaan de facto Republik Indonesia atas Sumatra, Jawa, dan Madura.
“Belanda saat itu masih ingin menguasai Kalimantan dan Sulawesi untuk membentuk persemakmuran,” ujar Neza. “Hal inilah yang memicu ketidakpuasan masyarakat Kalimantan Selatan hingga akhirnya Divisi IV ALRI dibentuk untuk memperjuangkan Kalimantan menjadi bagian dari Republik Indonesia.”
Sementara itu, Erwin mengatakan bahwa perjuangan masyarakat Kalimantan Selatan pada masa itu dilakukan melalui revolusi fisik dengan pusat Markas Divisi IV ALRI berada di Kandangan, Hulu Sungai Selatan. Meski menggunakan nama Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI), pasukan ini justru bergerilya di kawasan pegunungan dan pedalaman Kalimantan.
“Wilayah perjuangan didominasi pegunungan, perbukitan, dan pedalaman yang jejak sejarahnya masih hidup dalam cerita rakyat,” kata Erwin. “Salah satunya Air Terjun Mandin Mangapan yang memiliki kisah terkait Divisi IV ALRI, meski belum terdokumentasi resmi sebagai cagar budaya.”
Ketiga narasumber mengimbau masyarakat untuk terus mengingat dan mendokumentasikan sejarah perjuangan di Kalimantan Selatan agar narasi sejarah lokal tidak hilang. Mereka berharap generasi muda memiliki kebanggaan dan semangat untuk mempelajari sejarah daerahnya sendiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....