Alarm Kesehatan Mental Remaja, Tekanan Medsos Kian Mengkhawatirkan

  • 25 Mei 2026 09:03 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Kondisi Kesehatan Mental remaja saat ini dinilai semakin memprihatinkan dan perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Peningkatan kasus kecemasan, stres akademik, hingga perilaku menyakiti diri sendiri mulai banyak ditemukan di kalangan remaja dalam beberapa tahun terakhir.

Ketua Ikatan Psikologi Klinis HIMPSI Wilayah Sulawesi Selatan, Naftalen Koanda, mengatakan fase remaja merupakan masa yang sangat rentan terhadap gangguan psikologis. “Remaja sedang berada dalam proses pencarian jati diri sehingga perubahan emosional dan sosial sangat memengaruhi kondisi psikologis mereka,” ujar Naftalen, Minggu 24 Mei 2026.

Menurutnya, persoalan Kesehatan Mental pada remaja tidak bisa dianggap sebagai masalah sepele. Ia menjelaskan bahwa perubahan biologis, tekanan lingkungan, hingga tuntutan sosial sering kali membuat remaja kesulitan mengelola emosi secara stabil.

“Pada usia remaja, seseorang sedang belajar mengenali dirinya sehingga tekanan kecil pun bisa berdampak besar terhadap mental mereka,” jelasnya. Kondisi tersebut membuat remaja membutuhkan pendampingan yang lebih intens dari lingkungan sekitar.

Naftalen menilai perkembangan media sosial turut memperbesar tekanan terhadap Kesehatan Mental generasi muda. Paparan berbagai konten di media sosial membuat sebagian remaja merasa harus mengikuti standar kehidupan tertentu yang belum tentu sesuai dengan realitas mereka.

“Media sosial sering membuat remaja membandingkan dirinya dengan orang lain dan akhirnya merasa tidak cukup baik,” katanya. Situasi itu dinilai dapat memicu rasa cemas, rendah diri, hingga tekanan emosional berkepanjangan apabila tidak dikendalikan dengan baik.

Selain media sosial, persoalan hubungan interpersonal juga menjadi faktor yang memengaruhi kondisi psikologis remaja. Konflik dengan teman sebaya, keluarga, maupun lingkungan sekolah disebut sering menjadi sumber tekanan tambahan yang memengaruhi Kesehatan Mental mereka.

Naftalen mengatakan tuntutan prestasi akademik yang tinggi juga memberi beban tersendiri bagi sebagian remaja. “Banyak remaja merasa harus selalu berhasil agar diterima lingkungan, padahal mereka juga membutuhkan ruang untuk berkembang secara sehat,” ujarnya.

Dosen Fakultas Psikologi Unibos tersebut menekankan pentingnya peran keluarga dalam menjaga stabilitas emosional anak. Menurutnya, komunikasi yang terbuka antara orang tua dan remaja menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah munculnya gangguan psikologis yang lebih serius.

“Anak perlu merasa didengar dan diterima tanpa tekanan berlebihan,” kata Naftalen. Ia menambahkan lingkungan rumah yang aman dan suportif dapat membantu remaja lebih mudah mengelola stres dan tekanan sosial.

Selain keluarga, sekolah juga dinilai memiliki peran penting dalam mendukung Kesehatan Mental remaja. Kehadiran guru, konselor, dan lingkungan pendidikan yang sehat dianggap mampu membantu siswa menghadapi tekanan akademik maupun persoalan sosial yang mereka alami.

Naftalen berharap kesadaran masyarakat terhadap isu Kesehatan Mental terus meningkat sehingga remaja tidak lagi merasa takut untuk mencari bantuan profesional. “Kita perlu menciptakan ruang yang aman agar remaja bisa tumbuh dengan kondisi mental yang sehat dan kuat,” tuturnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....