Peringati 20 Tahun Gempa Yogyakarta, Jadi Pelajaran Besar Kesiapsiagaan Bencana
- 24 Mei 2026 07:17 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman – Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Lilik Kurniawan menyebut peringatan 20 tahun gempa bumi Yogyakarta dan Jawa Tengah menjadi momentum untuk memperkuat budaya kesiapsiagaan bencana di tengah masyarakat. Dua dekade lalu, gempa bumi berkekuatan 5,9 magnitudo mengguncang Yogyakarta dan Jawa. Dalam waktu 57 detik, lebih dari 5.700 orang meninggal dunia, lebih dari 200.000 rumah rusak, dan kerugian material ditaksir mencapai lebih dari Rp 29 triliun. Menurut Lilik, pengalaman tersebut harus menjadi pelajaran berharga agar masyarakat tidak lengah terhadap ancaman bencana di masa mendatang.
“Sebagai pembelajaran berharga bagi bangsa dan menjadi momentum untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi berbagai resiko bencana,” kata Lilik, Sabtu, 23 Mei 2026.
Lilik mengatakan Indonesia merupakan negara yang berada di kawasan Ring of Fire. Dengan demikian, Indonesia memiliki risiko bencana yang tinggi, baik bencana geologi maupun hidrologi. Menurutnya, berbagai ancaman seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, banjir, hingga kekeringan harus dihadapi melalui upaya yang terencana, sistematis, dan berkelanjutan.
Lilik turut mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana lain. Termasuk potensi dampak fenomena El Nino yang dapat memicu kekeringan, krisis air bersih, kebakaran hutan dan lahan, hingga gangguan sektor pertanian. Lilik menjelaskan Kemenko PMK saat ini juga mendorong program “Kita Tangguh” yang memiliki tiga pilar utama, yakni budaya tangguh bencana, kolaborasi tangguh, dan dashboard tangguh berbasis teknologi serta sistem informasi terintegrasi.
Dia menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia, kesiapan peralatan, sistem peringatan dini, hingga pemanfaatan data dan teknologi dalam penanggulangan bencana. Selain itu, literasi kebencanaan bagi generasi muda juga dinilai penting untuk membangun memori kolektif bangsa terhadap risiko bencana di masa depan.
“Ketangguhan bangsa pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur yang kokoh, tetapi juga oleh masyarakat yang mampu mengenali risiko, bertindak cepat, dan saling melindungi,” ucap Lilik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....