TPST BLE Banyumas Olah Ratusan Ton Sampah, Dukung Target Bebas Sampah 2028
- 22 Mei 2026 09:43 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: emerintah Kabupaten Banyumas terus memperkuat langkah menuju target Banyumas Bebas Sampah 2028 melalui optimalisasi pengelolaan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Berbasis Lingkungan dan Edukasi (TPST BLE). Sebagai fasilitas pengolahan akhir sampah di Banyumas, TPST BLE menjadi ujung tombak dalam mengolah residu sampah tanpa bergantung pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) konvensional.
Kepala UPT TPST BLE Banyumas, Edy Nugroho, mengatakan TPST BLE memiliki peran penting dalam mendukung program bebas sampah. Hal itu karena TPST BLE menjadi lokasi pengolahan akhir berbagai jenis sampah yang tidak dapat diolah di tingkat masyarakat maupun kelompok swadaya masyarakat (KSM).
“Banyumas tidak memiliki TPA konvensional, yang ada adalah TPST BLE. Jadi seluruh sampah kami proses menjadi berbagai produk yang bekerja sama dengan sejumlah offtaker,” ujarnya.

Menurut Edy, sistem pengelolaan sampah di Banyumas difokuskan pada pengolahan residu atau sampah yang sudah tidak dapat didaur ulang masyarakat. Sampah tersebut kemudian diolah menjadi berbagai produk bernilai guna.
Salah satu hasil pengolahan terbesar adalah Refuse Derived Fuel (RDF) atau bahan bakar alternatif yang dipasok ke pabrik semen sebagai pengganti batu bara. TPST BLE saat ini telah bekerja sama dengan dua pabrik semen untuk pemanfaatan bahan bakar tersebut.
Selain itu, limbah plastik juga diolah menjadi bahan bangunan seperti paving block dan genteng plastik sesuai kebutuhan pasar. Produk tersebut bahkan telah digunakan di sejumlah titik di Banyumas, termasuk kawasan Jalan Bung Karno.
Tak hanya itu, TPST BLE juga menghasilkan bahan bakar untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berupa SRF maupun BPJP yang berasal dari sampah organik. Di sisi edukasi dan pemberdayaan, TPST BLE juga mengembangkan budidaya maggot, mulai dari penetasan telur hingga pemanfaatannya sebagai pakan ternak ayam.
“Magot ini menjadi salah satu pembelajaran di tempat kami. Dari telur menjadi magot, lalu dimanfaatkan untuk pakan ayam hingga menghasilkan telur,” ucapnya.
Setiap harinya, TPST BLE Banyumas menerima sampah sekitar 160 hingga 200 ton. Dari jumlah tersebut, produk RDF menjadi hasil pengolahan terbesar dengan kapasitas mencapai 80 ton per hari.
Meski demikian, operasional pengolahan sampah masih menghadapi sejumlah tantangan. Edy mengungkapkan kendala utama berasal dari gangguan mesin yang dapat menyebabkan penundaan proses pengolahan sampah. Selain itu, faktor cuaca juga menjadi hambatan, terutama saat musim hujan.
“Kalau hujan, hasil output menjadi basah. Padahal pabrik semen mensyaratkan kadar air di bawah 30 persen agar bisa diterima,” katanya.
Ke depannya, TPST BLE Banyumas akan terus melakukan pengembangan untuk mempercepat terwujudnya Banyumas bebas sampah. Tahun ini, Kementerian Pekerjaan Umum disebut tengah mendukung pengembangan fasilitas melalui anggaran sekitar Rp34 miliar yang masih dalam proses lelang.
Pengembangan tersebut akan menghadirkan produk baru, termasuk kerja sama dengan investor dari Ipoh, Malaysia, untuk memproduksi biji plastik KW2 yang nantinya dapat diolah menjadi palet hingga lantai berbahan plastik. Langkah ini sejalan dengan program Bupati Banyumas menuju “Zero Waste to Money”, yakni pengelolaan sampah yang tidak hanya menekan volume limbah, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat dan daerah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....