Stabilitas Rupiah Perlu Dukungan Investor
- 19 Mei 2026 14:36 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga, Prof. Rahma Gafmi, menilai kepercayaan investor menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan ekonomi global dan domestik.
Ia mengatakan pelemahan rupiah yang sempat menyentuh kisaran Rp17.658 per dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Senin, 18 Mei 2026 dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi geopolitik dunia, tingginya kebutuhan valuta asing, hingga faktor domestik di dalam negeri.
“Banyak penyebab berkaitan dengan melemahnya nilai tukar rupiah. Hal ini dipengaruhi tekanan eksternal karena kondisi geopolitik dunia, faktor domestik, dan juga tingkat kepercayaan,” ujarnya dalam Dialog Aspirasi Pro1 RRI Surabaya, Selasa, 19 Mei 2026.
Prof. Rahma menjelaskan, meningkatnya kebutuhan dolar Amerika Serikat untuk pembayaran utang luar negeri, impor, hingga kebutuhan musim haji turut memicu tingginya permintaan valuta asing di pasar domestik.
“Kalau bicara optimisme tentu kita optimis rupiah akan kembali membaik. Namun saat ini pengeluarannya memang sedang banyak-banyaknya, seperti untuk bayar utang, musim haji, kebutuhan valas, dan lain sebagainya. Itu memicu pelemahan rupiah,” katanya.
Meski demikian, ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Karena itu, pemerintah perlu memperkuat sisi domestik melalui perbaikan tata kelola fiskal dan penguatan sektor riil agar stabilitas rupiah tetap terjaga.
“Stabilitas rupiah memang perlu ditingkatkan. Fundamental ekonomi Indonesia kuat, namun sisi-sisi domestik di dalam negeri juga harus diperbaiki,” ujarnya.
Selain itu, Prof. Rahma menekankan pentingnya menjaga kepercayaan investor agar arus modal tetap bertahan di dalam negeri dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
“Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mempertahankan kepercayaan investor agar tidak lari. Bisa melalui regulasi, tata kelola fiskal, dan juga memperbaiki sektor real,” tambahnya.
Bank Indonesia menyebut stabilitas nilai tukar rupiah dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi global, arus modal asing, hingga kebijakan fiskal dan moneter di dalam negeri. Karena itu, penguatan sektor riil dan kepercayaan pasar dinilai penting untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....