Syarat dan Keutamaan Haji Mabrur
- 18 Mei 2026 07:12 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Pimpinan Pesantren dan Panti Asuhan Mitra Arafah Surabaya, Ustazah Haniah, menjelaskan bahwa ibadah haji merupakan panggilan langsung dari Allah SWT kepada umat manusia sejak zaman Nabi Ibrahim AS. Hal itu disampaikannya dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Surabaya, Senin, 18 Mei 2026.
Menurutnya, perintah menunaikan ibadah haji terdapat dalam Surat Al-Hajj ayat 27: “Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.”
Ustazah Haniah mengatakan, berdasarkan penafsiran Quraish Shihab, Nabi Ibrahim AS sempat bertanya kepada Allah SWT tentang bagaimana suaranya dapat didengar seluruh manusia di tengah keterbatasan pada masa itu. Namun Allah SWT tetap memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyerukan haji karena Allah yang akan menyampaikan panggilan tersebut kepada seluruh umat manusia.
| Baca juga: Raih Pahala Haji lewat Amalan Harian |
“Jawaban manusia atas panggilan itu adalah Labbaik Allahumma Labbaik. Karena itu ada orang yang secara materi mampu tetapi belum juga berangkat haji, sementara ada yang secara ekonomi terbatas justru dipanggil Allah untuk berhaji,” ujarnya.
Ia menambahkan, ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia akan datang memenuhi panggilan haji dengan berbagai kemampuan dan cara. Ada yang berjalan kaki, menggunakan kendaraan, hingga berbagai sarana lain sesuai zamannya.
Usatzah Haniah menuturkan, setiap muslim tentu menginginkan haji yang mabrur atau diterima Allah SWT. Namun, terdapat sejumlah syarat yang harus dipenuhi agar ibadah haji bernilai mabrur.
| Baca juga: Keutamaan Puasa Arafah |
Syarat pertama ialah meluruskan niat semata-mata karena Allah SWT dan bukan untuk mencari pujian maupun gelar. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah ayat 196: “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.”
Selain niat yang ikhlas, jamaah haji juga harus menjalankan ibadah sesuai tuntunan Allah SWT dan Rasulullah SAW sebagaimana dijelaskan dalam Surat An-Nisa ayat 59 tentang kewajiban menaati Allah dan Rasul.
“Segala amal tergantung niatnya. Karena itu ibadah haji harus dijalankan dengan benar sesuai syariat,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar jamaah menjauhi berbagai larangan selama berhaji, seperti berkata kasar, berbuat fasik, mengikuti hawa nafsu, maupun berbantah-bantahan. Larangan tersebut tercantum dalam Surat Al-Baqarah ayat 197.
Menurut Usatzah Haniah, kemabruran haji tidak hanya terlihat saat berada di Tanah Suci, tetapi juga setelah kembali ke kehidupan sehari-hari.
“Orang yang hajinya mabrur akan berusaha menjaga ibadahnya, memperbaiki akhlaknya, meningkatkan keimanan dan ketakwaan, serta membawa perubahan sosial yang positif di lingkungannya,” tuturnya.
Ia menambahkan, ibadah haji memiliki banyak keutamaan. Selain menjadi penghapus dosa, haji mabrur juga dijanjikan balasan surga oleh Allah SWT. Hal tersebut sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Haji mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Selain itu, doa orang yang menunaikan ibadah haji juga termasuk doa yang diijabah oleh Allah SWT. Karena itu, Ustazah Haniah mengajak umat Islam untuk mempersiapkan ibadah haji tidak hanya secara materi, tetapi juga secara spiritual dan akhlak agar memperoleh haji yang mabrur.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....