TP PKK Makassar Goes to School, Edukasi Pelajar Kelola Sampah dari Maggot
- 13 Mei 2026 08:37 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - TP PKK Kota Makassar mengedukasi para pelajar tentang berbagai metode pengelolaan sampah, mulai dari budidaya maggot hingga metode teba, melalui program Goes to School bertema edukasi pengelolaan sampah. Memasuki hari kedua pelaksanaan, kegiatan tersebut menyasar dua sekolah, yakni SMP Negeri 46 Makassar dan SMP Negeri 29 Makassar, Selasa, 12 Mei 2026.
Ketua Pokja IV TP PKK Kota Makassar, Indira Purnamasari mengatakan program ini bagian program kerja Pokja IV dan bagian dari upaya TP PKK Kota Makassar dalam menanamkan kesadaran menjaga lingkungan sejak usia dini, khususnya terkait pentingnya memilah dan mengelola sampah dengan benar. “Kami ingin membangun kesadaran anak-anak sejak dini bahwa sampah bukan hanya untuk dibuang, tetapi juga bisa dikelola dan dimanfaatkan dengan baik jika dipilah dengan benar,” ujarnya.
Indira mengatakan kegiatan ini terlaksana melalui kolaborasi TP PKK Kota Makassar bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar serta sejumlah penggiat lingkungan hidup yang aktif mendorong budaya ramah lingkungan di tengah masyarakat. Menurut Indira Purnamasari, edukasi pengelolaan sampah perlu terus dilakukan secara berkelanjutan agar lahir generasi muda yang peduli terhadap kebersihan lingkungan dan mampu menjadi pelopor perubahan di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggalnya.
“Harapannya, anak-anak bisa menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing, mulai dari membiasakan membuang dan memilah sampah dengan benar hingga mengajak orang lain untuk peduli terhadap kebersihan lingkungan,” pungkasnya. Pada hari kedua pelaksanaan, materi edukasi dibawakan oleh perwakilan DLH Makassar, Nanda dan Lurah Kelurahan Baru Fajar Harianto, yang dikenal aktif dalam berbagai inisiatif pengelolaan lingkungan melalui komunitas Muliata.
Dalam pemaparannya, Perwakilan DLH Makassar, Nanda menjelaskan kepada para siswa mengenai perbedaan jenis sampah, mulai dari sampah organik, anorganik, B3, hingga residu. Ia menekankan pentingnya pemahaman dasar tersebut agar siswa dapat memilah sampah dengan benar sejak dari rumah maupun lingkungan sekolah. “Kalau sampah dipilah sejak awal, maka proses pengelolaannya akan lebih mudah dan lingkungan juga menjadi lebih bersih. Kebiasaan ini harus dimulai dari rumah dan sekolah,” jelas Nanda.
Nanda juga memberikan contoh langsung kepada siswa mengenai jenis-jenis sampah, seperti plastik, botol minuman, kertas, sisa makanan, kaleng, hingga limbah berbahaya yang termasuk kategori B3. Melalui contoh tersebut, para siswa diajak mengenali karakteristik masing-masing sampah agar tidak lagi mencampur seluruh sampah dalam satu tempat pembuangan.
Nanda juga mengedukasi siswa mengenai konsep 3R, yakni reduce, reuse, dan recycle, sebagai langkah sederhana namun efektif dalam mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir. “Kebiasaan kecil seperti membawa tumbler, menggunakan kembali barang yang masih layak pakai, dan memilah sampah untuk didaur ulang dapat memberikan dampak besar terhadap kebersihan lingkungan,” ujarnya.
Sementara itu, Lurah Kelurahan Baru, Fajar Harianto menjelaskan berbagai metode pengelolaan sampah yang dapat diterapkan di lingkungan rumah maupun sekolah. Ia menyebut sampah organik dapat diolah melalui budidaya maggot, penggunaan komposter, pembuatan lubang biopori, hingga metode teba.“Pengelolaan sampah organik sebenarnya bisa dilakukan dengan cara sederhana. Bisa dengan cara maggot atau pelihara ayam, kita usahakan agar sampah organik itu tidak lagi keluar dari sekolah ataupun di rumah,” ujar Fajar.
Ia juga mengajak pihak sekolah membuat teba di lingkungan sekolah sebagai upaya sederhana mengelola sampah organik sekaligus membangun kebiasaan peduli lingkungan bagi para pelajar sejak dini. “Pembuatan teba cukup sederhana, cukup menyiapkan lubang atau wadah di area sekolah untuk menampung sampah organik seperti sisa makanan dan daun kering. Nantinya, sampah tersebut dibiarkan terurai menjadi kompos yang bisa dimanfaatkan kembali untuk tanaman di lingkungan sekolah,” ungkap Fajar.
Untuk sampah anorganik, Fajar menjelaskan sampah seperti plastik, botol, dan kertas dapat dipilah untuk kemudian didaur ulang maupun disetorkan ke bank sampah agar memiliki nilai guna kembali. Dalam sesi edukasi tersebut, Fajar turut memperlihatkan secara langsung bahan dan bentuk alat pengelolaan sampah yang digunakan dalam proses pengolahan, sehingga para siswa dapat memahami cara kerjanya dengan lebih mudah.
Para siswa terlihat antusias mengikuti kegiatan tersebut. Mereka aktif bertanya mengenai cara memilah sampah, proses pengolahan maggot, hingga manfaat dari lubang biopori bagi lingkungan sekitar. Suasana edukasi berlangsung interaktif karena para pelajar juga diberikan kesempatan melihat langsung contoh media pengolahan sampah yang dibawa oleh pemateri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....