PT Telkom Indonesia Bekukan Pendapatan Rp147,7 Triliun Sepanjang 2025

  • 12 Mei 2026 19:39 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Jakarta - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) menutup kinerja perseroan tahun buku 2025 dengan hasil yang mencerminkan keberlanjutan penciptaan nilai bagi pemegang saham, seiring dengan percepatan eksekusi agenda transformasi perusahaan. Telkom mencatat net income sebesar Rp17,8 triliun dengan net income margin 12,1%, sedangkan untuk normalized net income tercatat sebesar Rp22,7 triliun dengan normalized net income margin 15,4%.

Pencapaian ini diperoleh dari pendapatan konsolidasi perseroan yang tercatat sebesar Rp146,7 triliun. EBITDA (Laba sebelum Bunga, Pajak, Depresiasi, dan Amortisasi) konsolidasi perseroan tahun 2025 tercatat Rp72,2 triliun dengan margin EBITDA sebesar 49,2%. Sementara normalized EBITDA tercatat sebesar Rp73,2 triliun dengan normalized EBITDA margin sebesar 49,9%.

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini mengatakan, strategi transformasi menjadi fokus utama perseroan sejak 2025 untuk memperkuat daya saing perusahaan. “Lewat strategi TLKM 30, Telkom memantapkan arah transformasi yang lebih terstruktur untuk mengakselerasi terwujudnya visi sebagai penggerak ekosistem digital nasional yang berdaya saing global,” kata Dian dalam keterangan tertulis, Selasa 12 Mei 2026.

Ia menjelaskan, transformasi TLKM 30 dijalankan melalui empat pilar utama, yakni Operational & Service Excellence, Streamlining, Unlock Value, dan Modus-operandi shift. Pilar pertama difokuskan pada penguatan tata kelola perusahaan, efisiensi proses bisnis, serta peningkatan kualitas layanan pelanggan.

Pada pilar kedua, Telkom melakukan penataan portofolio bisnis non inti untuk memperkuat fokus pada sektor telekomunikasi dan digital. Salah satunya melalui proses divestasi AdMedika dan TelkoMedika yang ditargetkan rampung pada akhir semester pertama 2026.

Sementara pada pilar Unlock Value, Telkom memperkuat bisnis infrastruktur digital, terutama konektivitas fiber. Langkah tersebut diwujudkan melalui pemisahan sebagian bisnis dan aset Wholesale Fiber Connectivity kepada InfraNexia yang ditandai dengan penandatanganan Conditional Spin-off Agreement pada Desember 2025.

Di sisi lain, Telkom juga tengah melakukan perubahan model bisnis dari operating holding menjadi strategic holding. Transformasi tersebut dilakukan dengan memperkuat fokus empat segmen Operating Company (OpCo), yakni B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International.

Segmen B2C melalui masih menjadi kontributor utama pendapatan perseroan dengan capaian Rp109,2 triliun sepanjang 2025. Kebutuhan layanan digital yang meningkat turut mendorong kenaikan trafik data sebesar 15 persen secara tahunan serta perbaikan Average Revenue Per User (ARPU) sejak paruh kedua 2025.

Pada segmen B2B Infrastructure, TelkomGroup memperluas pembangunan infrastruktur digital nasional melalui jaringan serat optik lebih dari 210 ribu kilometer, menara telekomunikasi, layanan data center, cloud, hingga konektivitas satelit. Pendapatan segmen ini tercatat sebesar Rp8,9 triliun atau tumbuh 9,2 persen dibanding tahun sebelumnya.

Anak usaha Telkom di bidang menara telekomunikasi, membukukan pendapatan Rp9,5 triliun dengan EBITDA margin 82,2 persen. Mitratel saat ini mengelola 40.230 menara telekomunikasi dengan rasio penyewa 1,57 kali dan disebut sebagai perusahaan menara telekomunikasi terbesar di Asia Tenggara.

Dian menegaskan, Telkom akan terus melanjutkan percepatan transformasi pada 2026 dengan menjaga disiplin operasional dan penguatan infrastruktur digital. “Ke depan, Telkom akan terus melangkah dengan arah yang lebih terstruktur untuk menghadirkan kinerja yang semakin solid serta memberikan manfaat optimal bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....