Surabaya Kota Budaya, Siapa Pemangkunya?
- 11 Mei 2026 23:43 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Program Apresiasi Budaya yang disiarkan di FM 96,8 Pro 4 RRI Surabaya, Minggu, 10 Mei 2026, membahas pentingnya penguatan identitas budaya Kota Surabaya. Tema “Surabaya Kota Budaya, Siapa Pemangkunya?” menghadirkan narasumber Ning Heti, Ketua Dewan Kebudayaan Surabaya dan Cak Ries, Pecinta Budaya Nusantara.
Dalam dialog tersebut, keduanya menyoroti potensi budaya lokal yang dinilai masih sangat besar untuk dikembangkan hingga tingkat kelurahan.
Ning Heti mengatakan, Surabaya memiliki banyak tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat. Menurutnya, sedikitnya ada 17 kecamatan yang rutin menggelar bersih desa dan sedekah bumi. “Kalau 38 kecamatan nanti rutin menggelar bersih desa, wayangan, pesta kuliner rujak ulek, itu bisa menjadi festival budaya khas Surabaya,” ujarnya.
Ia menilai pengembangan budaya tidak hanya berhenti pada pelaksanaan acara seremonial. Dewan Kebudayaan Surabaya, kata Ning Heti, juga memiliki tugas kuratorial, penelitian, hingga penyusunan kebijakan budaya.
“Kurator itu bukan hanya menilai karya, tetapi juga memetakan potensi budaya dan mengawal kebijakan agar tidak mandek,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Cak Ries menekankan pentingnya menjaga pendidikan karakter melalui budaya dan adat istiadat. Ia menyebut sopan santun dan tata krama harus terus diajarkan sejak dini. “Kalau tidak terus diingatkan, orang bisa melenceng. Unggah-ungguh dan toto kromo itu bagian penting dari budaya kita,” ucapnya.
Pembahasan juga menyinggung tradisi masyarakat Surabaya saat momen Lebaran, seperti anjangsana dan sungkem kepada orang tua maupun tetangga yang dituakan. Tradisi itu dinilai sebagai bagian dari identitas budaya arek Surabaya yang perlu dijaga.
“Unjung-unjung dan sungkem itu sebenarnya adat istiadat yang masih hidup sampai sekarang,” tutur Ning Heti.
Menurutnya, setiap wilayah di Surabaya memiliki karakter budaya yang berbeda. Surabaya Timur misalnya, disebut memiliki kekuatan dalam tradisi bahasa dan kebiasaan sosial masyarakatnya. Dewan Kebudayaan Surabaya pun berencana melakukan pendataan ulang terhadap tradisi-tradisi lokal yang masih bertahan.
“Tidak semua wilayah harus sama, tetapi setiap daerah punya kultur yang bisa dihidupkan kembali,” jelasnya.
Ning Heti juga menyoroti keberagaman etnis yang sejak lama menjadi bagian dari Surabaya. Ia menyebut budaya Jawa, Madura, Ambon, Tionghoa hingga tradisi masyarakat pendatang telah membentuk wajah Surabaya sebagai kota terbuka.
“Surabaya sejak dulu menerima banyak pendatang, jadi keberagaman kultur memang sudah menjadi bagian dari kota ini,” katanya.
Cak Ries menambahkan, keberagaman budaya tersebut harus diterima sebagai kekuatan, bukan dipertentangkan. Ia mencontohkan perbedaan cara menghormati orang tua di tiap daerah yang seharusnya dipahami sebagai kekayaan budaya.
“Kita tidak bisa hanya melihat budaya dari sudut pandang Jawa saja, tetapi harus menghargai semua kultur yang hidup di Surabaya,” ujarnya.
Selain tradisi, Dewan Kebudayaan Surabaya juga mendorong pemetaan situs budaya dan titik-titik sejarah di Kota Pahlawan. Mulai dari punden, petilasan, hingga sumur tua peninggalan sejarah dinilai perlu didata sebagai bagian dari warisan budaya. “Kalau masyarakat tahu titik sejarah di daerahnya, mereka akan merasa memiliki dan ikut menjaga,” kata Ning Heti.
Dalam dialog itu, muncul pula kekhawatiran mengenai maraknya penggunaan bahasa asing di ruang publik. Ning Heti menilai penggunaan nama kegiatan dan ruang publik dengan istilah asing perlahan mengikis identitas lokal Surabaya.
“Kenapa tidak memakai nama khas Surabaya saja, seperti Gelanggang Arek Suroboyo atau Sasana Semanggi Suroboyo,” ungkapnya.
Ia juga menilai Surabaya sebenarnya telah memiliki modal besar sebagai kota budaya, mulai dari taman kota, komunitas seni, hingga masyarakat yang aktif berkegiatan budaya. Namun, status sebagai kota budaya membutuhkan penguatan lembaga, tata kelola, dan dukungan pemerintah yang serius.
“Budayanya sudah ada, tapi sebagai kota budaya kita harus memenuhi syarat-syaratnya,” tegasnya.
Di akhir acara, Ning Heti menegaskan bahwa pemangku utama kebudayaan di Surabaya tetaplah pemerintah kota bersama masyarakat. Menurutnya, kebudayaan tidak hanya soal seni pertunjukan, tetapi juga menyangkut kehidupan nelayan, petani, guru, hingga komunitas adat. “
Yang utama itu pemerintah kota, karena kebudayaan harus kembali kepada rakyat. Semua harus mendapat perhatian agar budaya Surabaya tetap hidup,” katanya mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....