Hantavirus Jadi Ancaman Global yang Ditularkan Hewan Pengerat

  • 11 Mei 2026 14:10 WIB
  •  Toli Toli

RRI.CO.ID, Tolitoli - Hantavirus menjadi salah satu ancaman kesehatan masyarakat global yang terus mendapat perhatian dunia medis. Berdasarkan jurnal yang dimuat oleh National Library of Medicine berjudul “Hantavirus: tinjauan umum dan perkembangan dalam pendekatan terapeutik untuk infeksi”, virus ini berdampak pada lebih dari 200 ribu orang di seluruh dunia setiap tahunnya.

Dalam laporan tersebut disebutkan, angka kematian akibat Hantavirus cukup tinggi. Tingkat kematian kasus mencapai 1 hingga 15 persen untuk Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), 0,1 hingga 1 persen untuk Nephropathia Epidemica (NE), serta hingga 40 sampai 60 persen untuk Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS).

Hantavirus diketahui hidup dan berkembang dalam tubuh hewan pengerat sebagai inang alami. Virus ini terus dikeluarkan melalui air liur, urin, serta feses hewan pengerat yang terinfeksi. Penularan kepada manusia umumnya terjadi melalui kontak dengan partikel udara atau aerosol yang telah terkontaminasi kotoran tikus.

Virus tersebut menyebabkan dua jenis penyakit utama pada manusia, yakni sindrom paru Hantavirus atau HPS/HCPS dan demam berdarah dengan sindrom ginjal atau HFRS. Kedua penyakit ini termasuk demam akut yang dapat berkembang menjadi kondisi serius apabila tidak segera ditangani.

Sejarah mencatat dua wabah besar Hantavirus yang pernah menarik perhatian dunia. Wabah pertama terjadi saat Perang Korea tahun 1950 hingga 1953 yang menyerang lebih dari 3.000 tentara Amerika Serikat dengan kasus HFRS. Sementara wabah kedua berupa HPS dilaporkan di wilayah barat daya Amerika Serikat pada tahun 1993.

Para peneliti mengungkapkan, penularan Hantavirus sangat berkaitan dengan keberadaan hewan pengerat seperti tikus sawah bergaris. Selain itu, perubahan iklim dan fluktuasi musim juga dinilai dapat mempercepat penyebaran wabah.

Meski jarang terjadi, virus ini juga dapat menular melalui gigitan hewan pengerat yang terinfeksi. Oleh karena itu, masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak langsung dengan tikus maupun kotorannya.

Diagnosis awal Hantavirus dapat dilakukan dengan mengenali gejala yang berkaitan dengan HCPS, HFRS, maupun NE. Tenaga medis biasanya akan menanyakan riwayat perjalanan pasien ke daerah yang banyak terdapat hewan pengerat atau kemungkinan kontak dengan tikus dan kotorannya.

Selain itu, pemeriksaan laboratorium seperti Hitung Darah Lengkap atau Complete Blood Count (CBC) dan apusan darah tepi dapat digunakan sebagai langkah skrining awal untuk membantu mendeteksi infeksi Hantavirus.

Masyarakat diharapkan tetap waspada dengan menjaga kebersihan rumah, menutup makanan dengan baik, serta mengendalikan populasi tikus di lingkungan sekitar guna mencegah penyebaran penyakit ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....