Ika Foundation Hadirkan Pojok Konseling di Denpasar Education Festival

  • 08 Mei 2026 12:38 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – IKA Foundation bekerja sama dengan Program Studi Psikologi Universitas Bali Internasional menghadirkan layanan edukasi kesehatan mental dalam ajang Denpasar Education Festival yang berlangsung 6 hingga 8 Mei 2026 di Lapangan Lumintang, Denpasar. Sekretaris IKA Foundation, Ni Nyoman Angga Widaswari kepada RRI.CO.ID, Kamis, 7 Mei 2026 mengatakan kolaborasi tersebut diwujudkan melalui pembukaan Mental Health Corner yang menyediakan layanan pojok konseling bagi anak-anak dan remaja sekolah.

“Kita mengedukasi anak-anak remaja untuk mampu meregulasi emosi dan mengenali emosinya. Jadi di sini ada pojok konseling yang ditemani mahasiswa dari Prodi Psikologi Universitas Bali Internasional,” ujarnya.

Ia menjelaskan layanan tersebut tidak hanya menghadirkan sesi konseling, namun juga papan ekspresi yang memungkinkan anak-anak menuliskan maupun menggambarkan perasaan mereka apabila belum berani bercerita secara langsung. Menurutnya, metode menulis dan menggambar menjadi salah satu cara sederhana untuk membantu anak meregulasi emosi selain berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional.

“Kalau anak belum berani ngobrol, mereka bisa menulis atau menggambar apa yang dirasakan hari itu. Itu menjadi cara untuk melampiaskan emosi agar mereka merasa lebih baik,” ungkapnya.

Kegiatan ini menyasar pelajar mulai dari tingkat TK, SD, SMP, hingga SMA. Bahkan, sejumlah pengunjung umum yang berada di kawasan Lapangan Lumintang turut mendatangi stan kesehatan mental tersebut. Angga Widaswari mengatakan respons pengunjung sangat positif. Banyak anak merasa nyaman karena memiliki ruang aman untuk bercerita mengenai kondisi emosinya.

“Anak-anak senang karena merasa punya teman curhat. Kadang mereka takut ngobrol sama orang tua atau guru karena keterbatasan waktu, jadi lewat sesi ini mereka lebih berani mengekspresikan perasaannya,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, pengunjung juga diberikan edukasi mengenai isu kesehatan mental seperti academic pressure, burnout, hingga bahaya body shaming. Selain itu, peserta yang berani mengungkapkan perasaannya juga diberikan apresiasi berupa hadiah sederhana seperti buku journaling dan alat menggambar.

“Hashtag kami di sini Duduk Tarik Napas Dan Berani Cerita. Jadi setelah mereka berani menyampaikan perasaannya, kami apresiasi dengan hadiah yang berkaitan dengan kesehatan mental seperti buku catatan untuk journaling maupun alat menggambar,” jelasnya.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan kesadaran anak-anak, guru, maupun orang tua mengenai pentingnya kesehatan mental dan kemampuan mengelola emosi sejak dini. “Kalau kondisi emosinya stabil, tenang, dan bahagia, otomatis anak-anak akan lebih mudah menyerap ilmu pengetahuan. Guru juga akan lebih baik dalam memberikan pendidikan jika mampu meregulasi emosinya,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....