Literasi Bencana Harus Jadi Budaya Baru
- 30 Apr 2026 20:01 WIB
- Sampang
RRI.CO.ID, Sampang - Selama ini, atensi publik dan kebijakan seringkali baru memuncak saat sirine bencana berbunyi atau ketika evakuasi sedang berlangsung. Namun, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Sampang menegaskan bahwa kunci utama dalam menekan angka kerugian baik material maupun jiwa justru terletak pada fase pra-bencana. Sayangnya, fase ini masih menjadi titik lemah yang sering terabaikan.
Ketua FPRB Sampang, Moh. Hasan Jailani, menyoroti realitas di lapangan di mana para penggerak di garda depan pencegahan masih minim apresiasi dan dukungan.
"Padahal, investasi pada fase pra-bencana jauh lebih efektif dibandingkan biaya pemulihan pasca-bencana yang membengkak," pungkasnya, Kamis 30 April 2026.
Menurutnya literasi bencana harus menjadi budaya baru. Masyarakat perlu memahami bahwa kesiapsiagaan bukanlah bentuk rasa takut, melainkan bentuk kedaulatan atas keselamatan diri.
"Dengan memperkuat fase pra-bencana, kita sedang membangun fondasi masyarakat yang tangguh (resilience), di mana setiap individu tahu apa yang harus dilakukan sebelum ancaman berubah menjadi bencana," tutupnya mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....