Zakiyuddin Pimpin Apel Hari Kesiapsiagaan Bencana 2026
- 27 Apr 2026 20:11 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Wakil Wali Kota Medan Zakiyuddin Harahap memimpin Apel Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026 di Lapangan Avros, Kecamatan Medan Maimun, Minggu 26 April 2026. Zakiyuddin menegaskan Kota Medan harus belajar serius dari dua tahun banjir berturut-turut, dan menjadikan kesiapsiagaan sebagai gerakan nyata, bukan sekadar seremonial.
Zakiyuddin mengatakan, banjir besar yang melanda pada November 2025 merupakan peristiwa terparah yang ia saksikan sepanjang hidupnya. Meski 2024 tidak separah itu, pola kejadian di bulan yang sama menjadi peringatan keras bahwa potensi serupa bisa terulang pada November 2026.
"Kita harus betul-betul merenungkan kenapa ini terjadi. Dari tiga provinsi yang terdampak, hanya kota besar di Sumatera Utara, yakni Medan, yang terendam. Artinya ada yang salah pada sistem aliran sungai kita,” katanya.
Menurut Zakiyuddin, Medan yang dikelilingi sungai justru menghadapi persoalan aliran yang terputus, drainase tersumbat, serta parit yang tak berfungsi. Persoalan tak hanya berada di dalam kota, tetapi juga di wilayah hulu yang memengaruhi aliran air menuju Medan.
Dalam apel tersebut, Zakiyuddin memberi penekanan khusus pada peran Kepala Lingkungan (Kepling). Ia meminta seluruh Kepling wajib terlibat aktif dalam edukasi kebencanaan karena merekalah yang paling memahami kondisi riil lingkungan masing-masing.
"Masih banyak parit kita tersumbat. Bagaimana air mau mengalir ke sungai kalau paritnya saja tidak beres. Kepling inilah yang paling tahu kondisi itu,” ucap Zakiyuddin.
Ia mendorong adanya sistem peringatan dini sederhana yang dipahami warga, seperti kentongan atau sirene. Seperti pada HKB 2026 ini, tepat pukul 10.00 WIB, dilakukan pemukulan kentongan sebagai simbol kesiapsiagaan, dan ia meminta setiap Kepling memiliki alat tersebut sebagai penanda bahaya di lingkungan masing-masing.
Pada peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana, Zakiyuddin juga menyinggung persoalan klasik yang memperparah banjir karena kebiasaan masyarakat yang membuang sampah ke sungai dan parit. Selain itu, ia menyoroti keberadaan bangunan liar di bantaran sungai dan parit, bahkan hingga menutup jalan inspeksi.
“Jangankan sungai, jalan inspeksi saja sudah tertutup rumah. Tidak mungkin mereka tidak membuang sampah ke sungai,” ujar Zakiyuddin.
Ia menegaskan HKB tidak boleh berhenti pada kegiatan apel semata. Ia berharap momentum ini menjadi awal pembenahan serius dan edukasi masif kepada masyarakat agar banjir tidak menjadi kejadian tahunan yang diterima sebagai hal biasa.
"Peringatan HKB bukan berarti mengharapkan terjadinya musibah, melainkan sebagai pengingat bahwa bencana dapat datang kapan saja tanpa diduga. Saya mengimbau kepada masyarakat kiranya untuk menjaga kebersihan, minimal jangan membuang sampah di parit atau di sungai, karena hal ini sudah sangat membantu untuk menghadapi bencana ke depan," katanya.
Zakiyuddin kembali menginstruksikan agar para kepala lingkungan (Kepling) terlibat aktif dalam menyebarkan informasi mitigasi. Kepling diminta bekerja sama dengan BPBD yang gencar mengedukasi hingga ke tingkat lingkungan, terkait bencana maupun peringatan dini.
"Kita berharap kentongan-kentongan ini ada di setiap lingkungan. Begitu ada bencana, kita bisa (beritahu) melalui corong suara di masjid-masjid, bisa juga melalui kentongan. Dengan begitu, masyarakat tahu bahwasanya bencana akan datang," ujar Zakiyuddin.
Sebelumnya Kepala BPBD Kota Medan, Yunita Sari, dalam laporannya menyampaikan peringatan tahun ini mengusung tema "Siap Untuk Selamat". Dengan subtema "Bersatu dalam Siaga, Tangguh Menghadapi Bencana".
Berbeda dengan apel seremonial biasa, HKB 2026 diisi dengan aksi nyata berupa gotong royong pembersihan Sungai Deli. Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk membangun kesadaran kolektif dan kewaspadaan dini masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....