Evaluasi Ibadah setelah Ramadhan, Kunci Istiqomah dan Keimanan
- 26 Apr 2026 16:51 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Amalan setelah bulan suci Ramadan menjadi tolak ukur keberhasilan ibadah seorang muslim dalam menjaga keimanan dan ketakwaannya. Dalam ajaran Islam, Ramadhan bukan hanya momentum meningkatkan ibadah, tetapi juga menjadi titik awal untuk membangun konsistensi dalam beramal saleh di bulan-bulan berikutnya.
Dalam program Titian Illahi di Pro 1 RRI Makassar (17/04/2026), Dr. Andi Amiruddin, MA, menjelaskan bahwa setelah Ramadhan, umat Islam dianjurkan untuk melakukan evaluasi diri dengan “menghitung untung rugi atas ibadah yang telah dilakukan". Menurutnya, hal ini penting untuk mengetahui apakah amalan selama Ramadhan diterima atau justru terabaikan karena tidak dimaksimalkan.
Ia menuturkan, seseorang dapat dikategorikan merugi apabila tidak memanfaatkan kesempatan di bulan Ramadhan dengan baik. “Ketika diberikan waktu dan peluang untuk beribadah, namun tidak digunakan secara optimal, maka itulah bentuk kerugian yang nyata,” jelasnya. Sebaliknya, jika amalan Ramadhan mampu dilanjutkan setelahnya, hal tersebut menjadi indikator diterimanya ibadah oleh Allah SWT.

Lebih lanjut, ia mencontohkan ibadah puasa yang tidak berhenti di Ramadhan saja, tetapi dapat dilanjutkan melalui puasa sunnah seperti puasa Syawal maupun puasa Senin dan Kamis. Menurutnya, konsistensi ini menunjukkan kualitas keimanan seseorang. “Allah tidak hanya menilai ibadah di bulan Ramadhan, tetapi juga bagaimana keberlanjutannya setelah Ramadhan,” tambahnya.
Selain itu, ibadah malam seperti shalat tarawih di bulan Ramadhan diharapkan berlanjut menjadi shalat tahajud di luar Ramadan. Ia menegaskan bahwa peningkatan kualitas ibadah setelah Ramadhan menjadi nilai lebih di sisi Allah SWT. “Jika setelah Ramadhan justru ibadah menurun, maka itu tanda lemahnya komitmen keimanan,” ungkapannya.
Dalam hal interaksi dengan Al-Qur’an, ia juga menekankan pentingnya menjaga kebiasaan membaca dan mengamalkannya. Menurutnya, berhenti membaca Al-Qur’an setelah Ramadhan menunjukkan kurangnya konsistensi dalam beribadah. “Allah menilai keistiqomahan, bukan hanya semangat sesaat di bulan Ramadhan,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa berbagai amalan sederhana seperti zikir, istighfar, dan menjaga kesucian diri menjadi cara efektif untuk mempertahankan keimanan. Menurutnya, kebiasaan bersyukur dan mengingat Allah dalam kehidupan sehari-hari dapat menjauhkan seseorang dari perbuatan dosa serta memperkuat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.
Menutup penjelasannya, Dr. Andi Amiruddin menegaskan bahwa istiqamah merupakan kunci utama dalam menjaga kualitas ibadah. Ia mengingatkan bahwa konsistensi dalam beramal, sekecil apa pun, lebih bernilai dibandingkan amalan besar yang hanya dilakukan sesaat. “Orang yang mampu menjaga istiqomah adalah mereka yang benar-benar beriman dan bertakwa kepada Allah SWT,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....