Hakikat Silaturahmi: Tali yang Kelak Menjadi Saksi Akhirat
- 22 Apr 2026 05:57 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Silaturahmi dalam Islam bukan sekadar tradisi saling berkunjung atau rutinitas meminta maaf di bulan Syawal, melainkan ikatan suci yang kelak akan memberikan kesaksian di hadapan Allah SWT. Setiap hubungan yang dijalin manusia membawa tanggung jawab besar yang akan dimintai pertanggungjawabannya pada hari kiamat, baik hubungan tersebut membawa kebaikan maupun meninggalkan luka.
Pernyataan ini disampaikan Hj. Sri Ningsih, S.Pd., M.Si., ketika menjadi narasumber program Mutiara Pagi Pro 1 FM, Rabu (8/4/2026). Ia menekankan bahwa silaturahmi adalah perintah langsung dari Allah SWT yang bersifat transendental.
Penceramah yang akrab disapa ustazah Ning ini menjelaskan bahwa di hari kiamat kelak, mulut manusia akan dikunci, sementara tangan dan kaki akan berbicara memberikan kesaksian atas apa yang dijalani selama di dunia. Oleh karena itu, menjaga keikhlasan dan kepedulian dalam berhubungan dengan sesama, terutama keluarga inti dan saudara kandung, menjadi kewajiban mutlak bagi setiap muslim.
"Silaturahmi itu perbuatan hati, bukan sekadar perbuatan lisan. Lisan mungkin sudah memaafkan, namun jika hati masih mengganjal, kita perlu bertanya pada diri sendiri apakah sudah benar-benar ikhlas," ujar ustazah Ning.
Beberapa poin krusial yang dibahas dalam kajian tersebut meliputi:
- Prioritas Hubungan: Urutan silaturahmi yang paling utama adalah orang tua, kemudian saudara kandung, kerabat jauh, tetangga, hingga teman sejawat dalam ukhuwah islamiah.
- Batasan Mahram: Beliau mengingatkan untuk tetap menjaga batasan syariat, termasuk menghindari jabat tangan dengan yang bukan mahram, sesuai peringatan Rasulullah SAW untuk menghindari kemudharatan.
- Memaafkan Secara Total: Hakikat memaafkan adalah mencabut masalah hingga ke akar-akarnya dan menganggap seolah tidak pernah terjadi perselisihan di masa lalu.
- Keutamaan Menyapa Lebih Awal: Orang yang memulai menyapa atau mengucapkan salam terlebih dahulu memiliki kedudukan yang lebih utama di hadapan Allah SWT.
Ustazah Ning juga menyoroti bahwa silaturahmi tidak bergantung pada respons manusia, melainkan pada niat karena Allah. Meskipun seseorang dizalimi atau diputuskan hubungannya, tetap berusaha untuk terhubung kembali adalah tindakan yang sangat mulia. "Jangan pikirkan perkataan orang, yang penting kita mengamalkan sesuatu yang diridai Allah dan Rasul-Nya," tambahnya.
Kajian ini mengajak pendengar untuk menjadi pribadi yang berlapang dada, mampu mengecilkan masalah yang besar, dan menganggap tidak ada masalah-masalah kecil demi menjaga keutuhan tali persaudaraan. Dengan menjaga silaturahmi yang tulus, diharapkan hubungan tersebut menjadi saksi yang membawa kebaikan bagi manusia saat menghadapi pengadilan Allah di akhirat kelak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....