Dampak Sampah Ancam Kesuburan Lahan Pertanian di Bali
- 21 Apr 2026 18:57 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Permasalahan sampah di Bali tidak hanya berdampak pada lingkungan dan kesehatan, tetapi juga mulai mengancam sektor pertanian, terutama terkait kesuburan tanah dan sistem produksi pangan. Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Profesor I Gusti Agung Ayu Ambarawati, kepada RRI.CO.ID pada Senin, 18 April 2026 menjelaskan bahwa kondisi kesuburan lahan pertanian di Bali saat ini bervariasi di tiap daerah. Namun demikian, penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus menjadi salah satu faktor yang menyebabkan penurunan kualitas tanah.
“Kesuburan lahan berbeda-beda untuk tiap daerah. Namun, menurut saya, penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus menyebabkan tanah menjadi padat dan mengurangi kesuburan tanah. Secara logika, hal ini berdampak pada kualitas lahan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti fenomena pembakaran sampah di area persawahan yang belakangan terjadi akibat belum optimalnya pengelolaan sampah pasca penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Kondisi ini dinilai berbahaya karena dapat mencemari lahan pertanian.
“Masalah sampah memang pelik, terutama di Kota Denpasar. Penutupan TPA membuat masyarakat panik karena belum terbiasa memilah sampah organik dan non-organik. Karena belum ada solusi dari pemerintah, masyarakat akhirnya membakar sampah sendiri di sawah,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa praktik tersebut tidak dibenarkan karena sampah yang dibakar umumnya tercampur dan berpotensi mengontaminasi tanah. Bahkan, pembakaran jerami sekalipun tetap berisiko merusak lingkungan jika dilakukan secara terus-menerus.
“Hal ini sebenarnya tidak boleh dilakukan karena sampah tersebut bercampur aduk dan akan mengontaminasi sawah. Bahkan pembakaran jerami setelah panen pun sebenarnya merusak lingkungan. Jika dibiarkan, pembakaran sampah di sawah akan merusak kesuburan tanah dan membawa masalah baru bagi sektor pertanian,” tegasnya.
Terkait jenis sampah, ia menyebut bahwa seluruh jenis sampah, baik organik maupun non-organik, berpotensi membahayakan jika tidak dikelola dengan baik. Namun demikian, terdapat solusi yang dapat dilakukan di tingkat rumah tangga, salah satunya melalui pengolahan sampah organik menjadi eco-enzyme.
“Sampah organik dari sisa buah dan sayuran dapat diolah menjadi Eco-Enzyme. Manfaatnya sangat banyak, antara lain sebagai pupuk cair, pestisida alami, dan penyubur tanah. Pengolahan ini harus digalakkan mulai dari tingkat rumah tangga,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa dampak jangka panjang dari pengelolaan sampah yang buruk tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga dapat menghambat sistem produksi pertanian secara luas. Selain itu, rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah menjadi tantangan tersendiri yang perlu diatasi melalui edukasi berkelanjutan.
“Masyarakat kita belum terbiasa memilah sampah, jadi butuh edukasi non-formal yang berkelanjutan. Kita tidak boleh emosional, melainkan harus mencari solusi bersama, terutama untuk pembuangan sampah non-organik agar tidak mencemari lingkungan dalam jangka panjang,” tuturnya.
Menurutnya, peran pemerintah sangat penting dalam memastikan pengelolaan sampah berjalan efektif, khususnya dalam menyediakan fasilitas dan solusi agar tidak terjadi kepanikan di masyarakat. “Pemerintah harus memfasilitasi agar tidak ada kepanikan atau kemarahan dari masyarakat terkait tempat pembuangan sampah,” imbuhnya.
Ia mengajak seluruh masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan, dimulai dari langkah sederhana di rumah tangga, termasuk tidak membuang sampah di jaringan irigasi yang dapat mengganggu sistem pertanian. “Pertanian adalah hal yang tidak tergantikan karena kita makan dari hasil pertanian. Mari jaga bumi ini mulai dari rumah tangga dengan memilah sampah. Jangan membuang sampah di jaringan irigasi,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....