Warga Jombang Mulai Keluhkan Kelangkaan LPG 3 Kg
- 09 Apr 2026 14:19 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Jombang - Warga di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, dalam sepekan terakhir mengeluhkan kelangkaan gas elpiji bersubsidi ukuran tiga kilogram yang berdampak pada kenaikan harga di tingkat pengecer.
Kondisi ini terjadi akibat tersendatnya distribusi dari agen ke pangkalan dan pengecer, sehingga stok di pasaran menjadi terbatas dan harga melonjak di atas harga eceran tertinggi (HET).
Berdasarkan pantauan di sejumlah wilayah, seperti Kecamatan Jombang Kota, Diwek, dan Mojoagung, stok gas elpiji tiga kilogram di tingkat pengecer terpantau menipis. Bahkan, tidak sedikit warga yang harus berkeliling ke beberapa titik penjualan untuk mendapatkan gas bersubsidi tersebut. Keterbatasan pasokan ini terjadi sejak awal pekan dan belum sepenuhnya pulih hingga saat ini.
Salah satu warga Jombang, Hamdan, mengaku kesulitan mendapatkan gas elpiji dalam beberapa hari terakhir. Ia menyebut harus mencari hingga ke luar desa untuk memperoleh gas melon tersebut, dengan harga yang lebih tinggi dari biasanya.
“Biasanya saya beli di pangkalan itu sekitar Rp18.000, tapi sekarang sulit sekali dapatnya. Kalau pun ada di toko kelontong, harga yang biasanya Rp20.000, sudah Rp22.000 sampai Rp23.000 per tabung,” ujarnya, Kamis, 9 April 2026.
Menurut Hamdan, kondisi ini cukup memberatkan, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang sangat bergantung pada gas elpiji bersubsidi untuk kebutuhan memasak sehari-hari. Ia berharap distribusi segera normal agar harga kembali stabil.
“Semoga segera ada solusi. Kasihan masyarakat, apalagi yang punya usaha-usaha kecil itu,” katanya.
Sementara itu, salah satu pengecer elpiji di Kecamatan Jombang, Nini Ariani, menjelaskan bahwa pasokan gas dari agen memang mengalami keterlambatan dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini menyebabkan stok di tingkat pengecer cepat habis dan tidak dapat memenuhi permintaan konsumen.
“Dalam beberapa hari terakhir, kiriman dari agen tidak lancar. Biasanya datang rutin, tapi akhir-akhir ini telat terus. Jadi stok cepat habis,” jelasnya.
Menurut Nini, kondisi ini bukan kali pertama terjadi, terutama saat distribusi mengalami gangguan atau terjadi peningkatan permintaan secara tiba-tiba. Ia menilai, sistem distribusi perlu diperbaiki agar pasokan tetap stabil hingga ke tingkat pengecer.
Hingga saat ini, masyarakat berharap pemerintah daerah bersama pihak terkait segera melakukan pengawasan distribusi secara menyeluruh. Penertiban jalur distribusi dari agen ke pangkalan dinilai penting agar tidak terjadi penyelewengan yang dapat merugikan masyarakat kecil.
Selain itu, langkah stabilisasi harga juga diharapkan segera dilakukan agar harga elpiji tiga kilogram kembali sesuai dengan HET. Dengan demikian, kebutuhan energi rumah tangga masyarakat, khususnya kelompok ekonomi menengah ke bawah, dapat tetap terpenuhi tanpa terbebani lonjakan harga.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....