Cilacap Inflasi saat Ramadan, Ini Biang Keroknya!
- 06 Apr 2026 18:39 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Cilacap : Inflasi di Kabupaten Cilacap pada Maret 2026 tercatat tetap terkendali meski mengalami kenaikan secara bulanan. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Cilacap mencapai 0,70 persen (month-to-month/mtm), dengan realisasi 1,08 persen (year-to-date/ytd) dan 3,51 persen (year-on-year/yoy). Angka ini lebih rendah dibandingkan periode Februari 2026 yang sempat mencapai 0,80 persen (mtm) dan 4,22 persen (yoy).
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan harga di Cilacap masih dalam batas wajar, meskipun terdapat peningkatan permintaan masyarakat selama periode Ramadan hingga Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri.
Penyumbang utama inflasi di Cilacap pada Maret 2026 berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami kenaikan sebesar 1,68 persen (mtm), dengan andil terbesar terhadap inflasi total. Secara komoditas, kenaikan harga dipicu oleh Beras (andil 0,13 persen), Daging ayam ras (0,11 persen), Tarif angkutan antarkota (0,08 persen), Telur ayam ras (0,03 persen) dan Bensin (0,03 persen).
Lonjakan harga bahan pangan tersebut erat kaitannya dengan meningkatnya konsumsi rumah tangga menjelang Idulfitri, di mana permintaan cenderung melonjak signifikan. Selain dorongan musiman Ramadan dan Lebaran, inflasi Cilacap juga dipengaruhi faktor eksternal. Salah satunya adalah kenaikan harga minyak goreng yang mengikuti tren peningkatan harga crude palm oil (CPO) di pasar global.
Di sisi lain, sektor transportasi turut menyumbang inflasi akibat penyesuaian harga BBM non-subsidi pada awal Maret 2026. Momentum mudik dan arus balik Lebaran juga meningkatkan tarif angkutan antarkota karena tingginya mobilitas masyarakat.
Meski terjadi kenaikan harga, beberapa komoditas justru mengalami penurunan (deflasi) dan membantu menahan laju inflasi agar tidak lebih tinggi. Komoditas tersebut antara lain cabai rawit (-0,02 persen), emas perhiasan (-0,02 persen), bawang merah (-0,02 persen), Ikan asin keranjang (-0,01 persen) dan buah naga (0,00 persen).
Penurunan harga ini memberikan efek penyeimbang di tengah tekanan inflasi dari kelompok pangan dan transportasi. Secara tahunan, inflasi Cilacap pada Maret 2026 juga dipengaruhi oleh fenomena low base effect, yaitu perbandingan dengan periode tahun sebelumnya yang mengalami penurunan harga akibat kebijakan diskon tarif listrik. Hal ini membuat inflasi tahunan terlihat lebih tinggi secara statistik.
Untuk menjaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus menggencarkan berbagai program, seperti operasi pasar murah, pemantauan harga bahan pokok, hingga penguatan distribusi pangan, terutama selama Ramadan.
Pemda Cilacap menyebut jika langkah ini penting untuk memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga, terutama di tengah dinamika permintaan yang meningkat saat momen hari besar keagamaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....