Suhu Bumi Naik, Ancaman Kekeringan dan Angin Kencang Mengintai
- 28 Mar 2026 14:42 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Dalam satu dekade terakhir, percepatan pemanasan global tercatat hampir dua kali lipat dibandingkan era 1970-an. Saat ini, suhu Bumi telah meningkat sekitar 0,35 derajat Celcius, kondisi yang memicu meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem.
Pakar klimatologi Fakultas Geografi UGM Dr. Emilya Nurjani menjelaskan bahwa kenaikan suhu global berdampak langsung pada mencairnya es di Kutub Utara. Kondisi tersebut berkontribusi pada peningkatan volume air laut yang berpotensi menurunkan ketinggian wilayah dataran rendah.
Selain itu, peningkatan suhu juga berkorelasi dengan meningkatnya risiko bencana. Suhu yang lebih tinggi mempercepat proses penguapan, sehingga potensi pembentukan hujan pun meningkat.
“Jika suhu udara makin tinggi menyebabkan suhu muka laut semakin tinggi, maka bentuk lainnya adalah siklon yang akan sering terjadi. Kalau siklon sering terjadi maka dampak berikutnya adalah banjir, kemudian misalnya angin kencang, kemudian juga perubahan tinggi lainnya,” kata Emilya, Jumat, 27 Maret 2026.
Untuk mengurangi dampak tersebut, Emilya menekankan pentingnya langkah mitigasi agar laju kenaikan suhu tidak semakin meningkat. Ia mengingatkan bahwa peningkatan suhu tidak hanya memicu kekeringan, tetapi juga meningkatkan potensi terjadinya angin kencang.
Menurutnya, angin kencang dapat menimbulkan berbagai kerusakan, seperti pohon tumbang hingga kerusakan bangunan. Di sisi lain, musim kemarau yang datang lebih cepat dan lebih kering turut memberikan tekanan pada sektor pertanian.
“Karena kalau kemaraunya panjang maka akan berdampak pada sektor pertanian. Petani akan sulit untuk menanam padi, terutama di pola masa tanam yang ketiga,” katanya.
Lebih lanjut, Emilya menjelaskan bahwa pemanasan global yang dipicu aktivitas manusia, seperti penggunaan bahan bakar fosil, meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca. Akibatnya, radiasi matahari lebih banyak diserap daripada dipantulkan kembali ke atmosfer.
“Nah suhu yang makin panas itu kemudian juga menimbulkan dampak kenaikan suhu terhadap permukaan bumi,” kata Emilya.
Kondisi ini juga mempercepat proses evaporasi dan transpirasi, yang meningkatkan jumlah uap air di troposfer dan mendorong pembentukan awan. Ketika awan terbentuk dalam jumlah besar, intensitas hujan pun meningkat dan berpotensi menimbulkan genangan.
Namun, pada musim kemarau, fenomena monsun Australia justru mengurangi pembentukan awan di wilayah Indonesia karena uap air lebih banyak bergerak ke wilayah lain. “Proses pembentukan awan pada saat musim kemarau itu menjadi berkurang sehingga kita mengalami musim kemarau,” ucap Emilya.
Menghadapi kondisi kemarau yang lebih panjang, Emilya mendorong masyarakat untuk menerapkan langkah adaptasi, seperti memanen air hujan atau regulatory harvesting. Ia juga mengingatkan pentingnya pengelolaan air secara bijak sesuai kebutuhan.
“Jadi air digunakan sesuai dengan fungsinya. Misal untuk kebutuhan air domestik kita bisa menggunakan air tanah, tetapi kalau misalnya untuk kebutuhan yang lain, maka kita bisa menggunakan air permukaan atau jenis air lainnya. Karena memang air tanah sendiri pun juga semuanya kan inputnya dari air hujan,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....