Sampah Masih Jadi Momok, Ganjar dan Arus Bawah Siap Bantu Yogyakarta
- 26 Mar 2026 19:18 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Sekitar 40 orang perwakilan Arus Bawah PDI Perjuangan Kota Yogyakarta menggelar pertemuan dengan Ganjar Pranowo dari DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dalam suasana diskusi terbuka dan penuh semangat gotong royong pada 1 Maret lalu.
Dalam pertemuan tersebut, Ganjar Pranowo secara khusus mengajak kawan-kawan Arus Bawah untuk ikut terlibat aktif membantu menangani persoalan sampah di Kota Yogyakarta. Ia menegaskan bahwa problem sampah bukan semata persoalan teknis kebersihan, tetapi menyangkut tata kelola kota, partisipasi warga, serta keberanian mengambil langkah terobosan berbasis komunitas.
“Sebagai kota pendidikan dan pariwisata, Kota Yogyakarta menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah,” kata mantan calon presiden (capres) pada pemilu 2024 lalu.
Berdasarkan berbagai data pemerintah daerah dan laporan publik beberapa tahun terakhir, produksi sampah Kota Yogyakarta berkisar antara 250–300 ton per hari, dengan dominasi sampah rumah tangga.
“Lebih dari 60 persen komposisi sampah adalah organik, yang sebenarnya berpotensi diolah menjadi kompos,” ujar Ganjar.
Ketergantungan pada sistem pembuangan akhir masih tinggi, sementara kapasitas pengolahan di tingkat hulu (TPS3R, bank sampah, dan pengolahan mandiri) belum optimal.
Dampak penutupan dan pembatasan operasional TPA regional beberapa waktu lalu menyebabkan penumpukan sampah di sejumlah depo dan TPS dalam kota. Persoalan ini berdampak langsung pada kualitas lingkungan, kesehatan masyarakat, citra pariwisata, serta beban fiskal pemerintah daerah.
Menanggapi ajakan Ganjar Pranowo, Arus Bawah PDI Perjuangan Kota Yogyakarta menyatakan kesiapan penuh untuk bersinergi dan bergerak konkret. “Kami memandang bahwa kader dan simpatisan partai tidak boleh hanya hadir dalam momentum elektoral, tetapi juga dalam penyelesaian persoalan riil masyarakat,” kata M Andre Rinanto salah satu pentolan Arus Bawah PDI Perjuangan Kota Yogyakarta.
Andre Rinanto menegaskan, beberapa komitmen yang siap diwujudkan antara lain, penguatan edukasi pemilahan sampah dari rumah tangga di tingkat RT/RW. Kemudian, aktivasi bank sampah dan model ekonomi sirkular berbasis komunitas.
Kolaborasi dengan komunitas lingkungan dan pelaku UMKM daur ulang, dan juga mendorong inovasi pengolahan sampah organik menjadi kompos dan maggot.
“Bagi kami, ini bukan sekadar agenda teknokratis, melainkan bentuk nyata politik kerakyatan, hadir menyelesaikan persoalan warga secara gotong royong,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....