Warung Legendaris Mak Yeye Tetap Bertahan
- 18 Mar 2026 08:00 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Warung sego sambel Mak Yeye di Jalan Wonokromo, Surabaya, menjadi salah satu kuliner legendaris yang tetap bertahan hingga kini meski hanya menyajikan menu sederhana seperti telur dadar, tempe goreng, ikan pari panggang, dan lele. Berdiri sejak 1982, warung ini terus berkembang dan menjadi favorit masyarakat lintas generasi.
Warung yang dikenal dengan cita rasa sambalnya yang khas ini mulai ramai pembeli sejak tahun 1992. Sejak saat itu, Mak Yeye menjadi destinasi kuliner malam yang tak pernah sepi, terutama bagi pecinta penyetan di Surabaya.
Selama bulan puasa, jam operasional warung dimulai pukul 16.30 hingga 02.00 dini hari. Sementara pada hari biasa, warung buka lebih awal, yakni pukul 16.00 hingga 01.00.
| Baca juga: Diet Antiinflamasi Kendalikan Autoimun |
Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, warung ini dijadwalkan mulai libur pada Rabu, 18 Maret 2026 selama kurang lebih dua minggu. Pantauan pada Selasa, 17 Maret 2026 atau H-1 libur Lebaran, warung Mak Yeye tampak dipadati pembeli.
Antrean panjang terlihat di depan warung, menunjukkan tingginya minat masyarakat untuk menikmati sajian khas tersebut sebelum tutup sementara. Namun demikian, Dwi, cucu Mak Yeye, mengungkapkan bahwa kondisi ramai tidak terjadi sepanjang bulan puasa.
Ia menyebut, lonjakan pembeli biasanya baru terjadi menjelang akhir Ramadan.
“Selama puasa itu biasanya ramai di akhir-akhir saja, dari dulu memang seperti itu,” ujar Dwi saat ditemui tim RRI Surabaya.
Ia menjelaskan, pada awal Ramadan masyarakat cenderung lebih memilih memasak sendiri di rumah, sehingga pasar tradisional seperti Pasar Wonokromo justru lebih ramai dibandingkan warung makan. “Kalau awal puasa, pasar yang ramai karena orang-orang lebih senang masak sendiri. Nanti mendekati Lebaran baru warung mulai ramai lagi,” katanya.
Dwi juga menyebut, kondisi serupa terjadi pada hari biasa. Warung Mak Yeye cenderung ramai saat akhir pekan, yakni Jumat, Sabtu, dan Minggu, sementara hari lainnya relatif lebih sepi. “Kalau hari biasa, Senin sampai Kamis itu ya biasa saja, tidak terlalu ramai. Paling ramai memang weekend,” ujarnya.
Lebih lanjut, Dwi mengungkapkan bahwa nama Mak Yeye bukanlah nama asli sang pendiri. Julukan tersebut muncul dari kebiasaan Mak Yeye yang latah dan sering mengucapkan kata “ye-ye”, hingga akhirnya dikenal oleh para pelanggan.
“Yang memberi nama itu justru pembeli, karena beliau suka bilang ‘ye-ye’, akhirnya dipanggil Mak Yeye,” tuturnya.
Kini, Mak Yeye yang berusia sekitar 85 tahun sudah tidak lagi berjualan. Usaha tersebut diteruskan oleh para cucunya, namun cita rasa dan keaslian menu tetap dipertahankan sebagai ciri khas warung legendaris tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....