Diet Antiinflamasi Kendalikan Autoimun
- 20 Mei 2026 11:00 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Program Dialog Kesehatan Pro 4 RRI Surabaya, Selasa, 19 Mei 2026, membahas pentingnya diet antiinflamasi untuk membantu mengendalikan penyakit autoimun. Narasumber dari RSUD Karsa Husada Batu, Alma Maghfirotun I, menjelaskan bahwa pengobatan autoimun tidak cukup hanya mengandalkan obat, tetapi juga harus disertai perubahan gaya hidup secara menyeluruh.
Menurut Alma, pasien autoimun perlu mendapatkan pendampingan dalam menjalankan pola makan sehat sehari-hari. “Kalau di rumah sakit kita pasti edukasi atau menjelaskan makanan apa yang dianjurkan, contoh menu makanan untuk sehari, lalu disesuaikan dengan kebiasaan pola makan pasien,” ujarnya dalam dialog tersebut.
Ia mencontohkan, pasien yang tidak memiliki pendamping di rumah tetap dapat menjalankan pola makan sehat dengan memilih lauk yang tepat saat membeli makanan di warung. “Misalnya memilih sayur sop, sayur bayam, lalu ikan yang dipepes atau asem-asem, bukan makanan yang digoreng,” katanya.
Selain makanan, Alma menegaskan bahwa pengelolaan stres, aktivitas fisik, dan pola tidur juga sangat berpengaruh terhadap kondisi autoimun. “Minum obat saja memang bisa membantu terkontrol, tapi perlu diusahakan dari berbagai kombinasi gaya hidup. Memang harus mengubah pola hidup keseluruhan,” ujarnya.
Dalam dialog itu juga dibahas penggunaan gula, garam, dan MSG pada pola makan antiinflamasi. Alma mengatakan ketiganya masih boleh dikonsumsi selama dalam jumlah wajar dan disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing individu. “Tubuh kita tetap memerlukan gula, garam, dan lemak untuk kerja otak, otot, dan menghasilkan energi,” ujarnya.
Ia menambahkan, penggunaan bumbu alami lebih diutamakan karena memiliki manfaat antiinflamasi. “Rempah-rempah alami selain menambah cita rasa masakan juga mengandung komponen antiinflamasi, seperti kunyit, jahe, dan bawang putih,” katanya.
Alma juga memaparkan batas konsumsi gula, garam, dan minyak dalam sehari. Untuk gula, batas maksimal konsumsi adalah empat sendok makan per hari, termasuk yang berasal dari makanan dan minuman olahan. Sementara garam dibatasi satu sendok teh per hari, dan minyak maksimal lima sendok teh atau setara lima potong makanan gorengan.
Menurutnya, diet antiinflamasi sebenarnya tidak hanya diterapkan oleh penderita autoimun, tetapi juga penting bagi masyarakat umum sebagai langkah pencegahan. “Bisa saja seseorang memiliki bakat autoimun, tetapi dengan pola makan yang baik gejalanya tidak muncul,” ujarnya.
Ia pun mengajak masyarakat memanfaatkan bahan pangan lokal yang mudah ditemukan di sekitar rumah. Tempe disebut sebagai salah satu makanan fermentasi kaya antioksidan, sementara ikan air tawar maupun ikan laut segar memiliki manfaat membantu mengurangi inflamasi dalam tubuh.
Di akhir dialog, Alma mengingatkan pentingnya menerapkan gaya hidup sehat secara konsisten. “Konsumsi sayur tiga sampai empat porsi sehari, buah dua sampai tiga porsi sehari, olahraga minimal 30 menit, dan tidur cukup enam sampai delapan jam sehari. Keseluruhan gaya hidup itu diterapkan untuk memberikan efek antiinflamasi dalam mengendalikan autoimun,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....