Tingginya Antusias Warga hadiri Cap Go Meh di Purwokerto

  • 05 Mar 2026 08:34 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Perayaan Cap Go Meh yang diselenggarakan oleh Klenteng Hok Tek Bio Purwokerto pada Senin (3/3/2026) kemarin, mengundang antusias masyarakat dari berbagai wilayah. Kegiatan ini menjadi potret nyata harmoni dan toleransi antarumat beragama di Kabupaten Banyumas, karena dilaksanakan pada moment Ngabuburit di Bulan Suci Ramadan.

Hal tersebut disampaikan oleh Iqbal, seorang mahasiswa UIN SAIZU Purwokerto yang turut hadir dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan ini merupakan salah satu bukti bahwa perbedaan agama bukanlah menjadi penghalang untuk saling menghargai satu sama lain.

“Acara ini kan dasarnya dari tradisi non-muslim, tapi mereka mengadakan acara yang di dalamnya juga ada agenda buka puasa bersama (bukber). Jadi kita bisa lihat bahwa agama lain pun menghargai agama kita,” ujarnya saat diwawancarai oleh RRI Purwokerto.

Dengan melibatkan dua kegiatan didalamnya, kegiatan Cap Go Meh dan Ngabuburit Bareng ini sukses menarik minat dan antusias masyarakat sekitar. Pasalnya, bukan hanya umat Khonghucu dan Islam saja yang menghadiri kegiatan tersebut, umat lain seperti Kristen juga ikut meramaikan.

Hendry Hwang, seorang warga keturunan Khonghucu yang memeluk agama Kristen juga turut menyampaikan kegembiraannya saat menyaksikan kegiatan tersebut. Dimana banyak masyarakat lintas iman yang rukun dan saling berbagi kebahagiaan.

“Walaupun saya bukan umat dari klenteng sini, saya merasa sangat senang. Tadi saya lihat banyak warga Muslim dan teman-teman lintas iman lainnya. Itu sesuatu yang sungguh membuat hati saya gembira,” ujarnya.

Cap Go Meh sendiri merupakan puncak rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek, dimana dalam pelaksanaannya terdapat beberapa ritual keagamaan Khonghucu, seperti kirab, goyang joli, barongsai, dan liong. Pasalnya, perpaduan Cap Go Meh dan Ngabuburit bareng ini merupakan inovasi pertama yang diselenggarakan oleh pengurus Klenteng Hok Tek Bio Purwokerto.

Dengan begitu, sembari menunggu waktu berbuka puasa, masyarakat muslim dan lintas agama lainnya turut menyaksikan ritual-ritual keagamaan tersebut sebagai upaya penghormatan sekaligus hiburan. Adapun menu buka puasa yang disediakan oleh pihak klenteng adalah lontong Cap Go Meh yang merupakan sajian khas hasil akulturasi budaya peranakan Tionghoa dengan masakan jawa.

“Lontong melambangkan keilmuan; bahwa kita harus terus belajar. Sambal goreng melambangkan hati yang sabar dan ikhlas. Lalu ada sayur lodeh atau manisa (labu siam) yang merupakan percampuran adat Jawa. Jadi ini benar-benar makanan simbol persatuan." ujar salah satu pengurus Klenteng.

Harapannya, dengan adanya kegiatan ini dapat menjadi simbol persatuan dan kesatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Sekaligus meninggalkan kesan bahwa perbedaan agama adalah peluang untuk menguatkan toleransi antar lintas iman.

"Seperti kata Gus Dur, 'Indonesia ada karena keberagaman'. Sebagai generasi muda, kewajiban kita adalah menjaga kesatuan NKRI dengan saling menghormati. Harapan saya, klenteng bisa terus terbuka untuk siapa saja. Kami ingin menghapus kesan bahwa klenteng itu eksklusif, ” ujar pengurus Klenteng.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....