Toleransi Beragama, Momentum Perkuat Harmoni

  • 20 Feb 2026 11:39 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto: Perayaan Tahun Baru Imlek tahun ini berdekatan dengan Ramadan dan Paskah yang dinilai menjadi momentum istimewa untuk memperkuat harmoni dan pengendalian diri di tengah masyarakat yang majemuk. Hal tersebut disampaikan Rohaniwan Majelis Agama Khonhucu Indonesia (MAKIN) Purwokerto, Ws. Budi Rohadi, S.T.

Menurut Budi, Imlek bukan sekadar perayaan seremonial yang identik dengan pesta atau hiasan meriah, melainkan memiliki makna reflektif yang mendalam.

“Imlek adalah momen untuk berefleksi atas apa yang telah kita lakukan selama setahun terakhir dan mempersiapkan diri menyambut tahun yang baru dengan semangat yang lebih baik,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan, bahwa dalam tradisi Khonghucu, Imlek identik dengan momen berkumpul bersama keluarga. Salah satu simbol khas adalah kue keranjang atau nian gao, yang bertekstur lengket dan berbentuk bulat.

Bentuk dan sifat lengket tersebut melambangkan eratnya persaudaraan serta harapan agar hubungan keluarga dan sesama semakin harmonis dan tidak terputus. “Imlek menjadi saat untuk saling mendekatkan kembali relasi, terutama bagi anggota keluarga yang merantau atau tinggal berjauhan,” katanya.

Tahun ini, perayaan Imlek hadir berdekatan dengan bulan suci Ramadan bagi umat Islam dan Paskah bagi umat Kristiani. Budi menilai kedekatan tiga momentum keagamaan tersebut sebagai sesuatu yang luar biasa.

Meski berbeda keyakinan dan tata cara ibadah, ia menyebut ketiganya memiliki esensi yang sama, yakni pengendalian diri dan pembaruan batin. “Ramadan mengajarkan pengendalian diri melalui puasa, dalam ajaran Khonghucu juga ada pengendalian diri dan introspeksi. Semua mengarah pada perbaikan diri,” katanya, menjelaskan.

Budi juga menyoroti pentingnya menyikapi perbedaan keyakinan secara bijak. Ia mengutip prinsip Yin dan Yang dalam ajaran Khonghucu, yang menggambarkan keseimbangan antara dua unsur berbeda namun saling melengkapi.

“Perbedaan bukan untuk saling menjauhkan atau memecah belah, tetapi untuk saling mengisi dan menyempurnakan,” ucapnya.

Terakhir Budi berharap masyarakat dapat menjaga dan merawat perbedaan sebagai kekuatan bersama. Ia menekankan pentingnya bersikap fanatik secara internal memperdalam keyakinan pribadi—tanpa memaksakan kepada orang lain.

“Kita jalankan ajaran agama masing-masing dengan baik, dan yang terpenting adalah bagaimana nilai-nilai agama itu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Momentum berdekatan antara Imlek, Ramadan, dan Paskah diharapkan menjadi pengingat bahwa keberagaman adalah keniscayaan. Yang mana justru dapat memperkokoh persatuan apabila disikapi dengan saling menghormati dan menjaga keharmonisan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....