Lorong Sunyi di Pasar Cempaka, Taha Menyalakan Harapan
- 19 Feb 2026 16:40 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Siang merayap pelan di Lorong lantai II Pasar Cempaka Banjarmasin yang nyaris tak terawat. Cat dinding mengelupas, lantai basah oleh genangan air dari atap yang bocor, serta aroma tak sedap tercium membuat tidak nyaman.
Dibalik meja kayu seadanya, M.Taha (53) duduk dengan peci hitam dikepalanya. Wajahnya tenang, matanya teliti , jemarinya cekatan menyusuri jalur-jalur kecil dalam tubuh radio yang renta. Lebih dari 30 tahun, pekerjaan itu ia Jalani. Sejak di bangku kuliah, hingga kini rambutnya mulai memutih.
Lelaki lulusan sarjana ekonomi itu tak pernah benar-benar meninggalkan dunia angka. Hanya saja, ia memilih menghitung rezeki dengan cara berbeda, melalui kabel, transistor, dan papan sirkuit.
“Rezeki itu bukan soal besar kecilnya penghasilannya, yang penting cukup dan berkah,” ucapnya pelan tanpa mengalihkan pandang dari radio yang sedang diperbaiki, Kamis 19 Februari 2026.
Tumpukan radio tua, televisi, kipas angin hingga alat elektronik lainnya memenuhi tempat usahanya yang berukuran kecil, yang belum sempat diambil pemiliknya hingga tak menyisakan ruang untuk meja kerjanya.
“Kadang tidak diambil lagi, saya simpan saja. Siapa tahu suatu hari pemiliknya datang. Barang itu mungkin biasa bagi orang lain, tapi bagi yang punya bisa jadi kenangan,” katanya sambil tersenyum tipis,
Taha tak pernah memasang tarif tetap. Tak ada daftar harga yang terpampang. Ia memperbaiki dulu, lalu membiarkan hati yang menentukan.
“kalau barangnya sudah tua tapi masih sangat diperlukan, saya tidak tega minta ongkos. Paling Cuma beli sparepartnya saja, yang penting bisa dipakai lagi,” ujarnya.
Rahman, (48) salah satu pelanggan setianya, mengaku sudah bertahun-tahun mempercayakan barang elektroniknya kepada Taha.
“kalau rusak, saya ke Taha. Murah, kadang malah tidak mau dibayar, justru kita yang tidak enak,” katanya sambil tertawa kecil.
Bagi Rahman, Taha bukan sekedar tukang servis. Ia adalah penjaga kenangan. Radio tua peninggalan orang tuanya yang sempat mati suri, Kembali bersuara berkat tangan lelaki berpeci itu.

Dari lapak sederhana di Lorong pasar itulah Taha menghidupi keluarganya. Dari sana pula biaya sekolah anak-anaknya mengalir, sedikit demi sedikit. Tak ada papan nama besar, taka da promosi. Hanya kabar dari mulut ke mulut, dan kepercayaan yang tumbuh dari kejujuran.
Siang itu, ketika azan zuhur berkumandang dari kejauhan, Taha perlahan meletakkan obengnya. Radio kecil dihadapannya hampir selesai.
“Maaf, saya izin sholat dulu, rezeki jangan sampai bikin lupa kewajiban,” ucapnya lembut.
Ia berdiri, merapikan pecinya, lalu melangkah meninggalkan lapak kecilnya untuk sementara waktu.
Di Lorong yang hampir dilupakan orang, M.Taha tidak sekedar memperbaiki barang elektronik yang rusak. Ia menyalakan Kembali suara-suara yang hampir padam dan diam-diam ia juga menyalakan harapan tentang kesederhanaan, keiklasan, dan arti cukup dalam hidup yang sering kali terlalu bising oleh ambisi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....