SDM Unggul, Kunci Sukses Bonus Demografi Kalbar
- 19 Feb 2026 10:55 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Kalimantan Barat (Kalbar) menyambut bonus demografi 2045 dengan optimisme, menempatkan pendidikan sebagai investasi utama pembangunan berkelanjutan. Indonesia tengah menuju puncak Bonus Demografi 2045, sebuah momentum ketika jumlah penduduk usia produktif jauh lebih besar dibanding usia non-produktif.
Di Kalbar, semangat menyambut momentum ini tidak dibingkai dengan rasa cemas, melainkan optimisme dan tekad menjadikannya sebagai “hadiah sejarah” yang harus dimenangkan. Wakil Ketua Dewan Pendidikan Kalimantan Barat, Jipridin, menegaskan bahwa bonus demografi bukan soal siap atau tidak siap.
“Kita tidak lagi bicara siap dan tidak siap. Namanya menghadapi berarti kita memang berhadapan langsung—melawan atau menyongsong. Tidak ada lagi kalimat siap atau tidak siap,” ujarnya saat Dialog Pontianak Menyapa di Studio RRI Pontianak, Kamis, 19 Februari 2026.
Bonus Demografi: Apresiasi atau Tantangan?
Dalam perspektif optimisme, bonus demografi dipandang sebagai apresiasi—sebuah peluang emas untuk memacu pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional. Ketika usia produktif mendominasi, maka energi, kreativitas, dan daya saing bangsa berada pada titik tertinggi.
Namun, Jipridin mengingatkan bahwa jumlah besar usia produktif hanya akan berdampak positif jika benar-benar produktif. Artinya, kualitas sumber daya manusia menjadi kunci.
“Jika usia produktif lebih besar, itu sangat positif. Tapi produktif dalam arti sesungguhnya—punya kompetensi, karakter, dan daya saing,” katanya.
Dalam menghadapi bonus demografi, Jipridin menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama, disusul kesehatan, lapangan pekerjaan, dan ekonomi. Keempat dimensi ini, menurutnya, harus berjalan secara holistik dan terpadu.
Sorotan tajam ia arahkan pada kebijakan anggaran pendidikan 20 persen sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, baik melalui APBN maupun APBD. Pertanyaannya bukan pada besarannya, tetapi pada pola pikir.
“Apakah 20 persen itu dianggap biaya atau investasi? Kalau dianggap biaya, kita tidak akan pernah tuntas menyelesaikan persoalan kualitas SDM,” ucapnya.
Ia menegaskan bahwa investasi terbaik bukanlah saham atau properti, melainkan peningkatan kualitas diri. Dalam skala kolektif, investasi terbaik bangsa adalah pendidikan.
Mindset inilah yang, menurutnya, harus diubah. Pendidikan bukan beban anggaran, melainkan fondasi masa depan.
Sekolah Tinggi, Literasi Rendah?
Di sisi lain, ia juga menyoroti fenomena yang kerap luput dari perhatian: perbedaan antara semangat sekolah dan kemampuan literasi. Anak-anak, terutama di perkotaan, menunjukkan motivasi tinggi untuk bersekolah dan meraih gelar. Namun, literasi—kemampuan memahami, menganalisis, dan berpikir kritis—masih menjadi pekerjaan rumah besar.
“Sekolah dan literasi itu berbeda. Anak bisa semangat sekolah, tapi belum tentu literasinya kuat,” katanya.
Menurutnya, bonus demografi tidak cukup dijawab dengan angka partisipasi sekolah semata. Yang dibutuhkan adalah kualitas berpikir, daya baca, dan kemampuan adaptasi terhadap perubahan zaman.
Optimisme yang Realistis
Bonus demografi 2045 adalah momentum yang hanya datang sekali dalam sejarah bangsa. Bagi Kalimantan Barat, ini bukan sekadar statistik kependudukan, melainkan peluang untuk melompat lebih jauh dalam pembangunan.
Optimisme yang ditawarkan bukanlah optimisme kosong, tetapi optimisme yang disertai perubahan pola pikir:
- Pendidikan sebagai investasi
- Kesehatan sebagai fondasi produktivitas
- Lapangan kerja sebagai ruang aktualisasi
- Ekonomi sebagai hasil dari kualitas manusia
Jika keempat matra ini berjalan terpadu, maka bonus demografi benar-benar menjadi “hadiah” yang menyenangkan—bukan sekadar angka, melainkan lompatan peradaban. Dan seperti ditegaskan Jipridin, menghadapi berarti menyongsong. Bukan ragu, bukan menunggu—tetapi bergerak.
Baca juga: Akademisi Untan: Lalai Bonus Demografi Sebabkan Usia Tua Miskin
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....